Kekuatan Dari Desa

kekuatan-dari-desa
Setiap kali saya keluar Rumah dan melihat sawah-ladang yang begitu luas terhampar, selalu tengiang ditelinga saya lagu Iwan Fals, "Desa". Disitu ada bait yang menarik sekali,

Desa harus jadi kekuatan ekonomi
Agar warganya tak hijrah ke kota
Sepinya desa adalah modal utama
Untuk bekerja dan mengembangkan diri


Sayapun sesekali ke kota, melihat suasana kota yang gemuruh dengan kehidupan yang serba sibuk. hotel dan restoran makanan cepat saji yang bercokol dimana-mana, gaya hidup yang terpampang di Mall dan arena perbelanjaan dengan hilir mudik manusia yang begitu banyak. Siapa yang akan menyediakan Bahan Dasar perut mereka?

Sayapun mencoba masuk ke beberapa pasar swalayan modern di Mataram, Carrefour, Hypermart dan Giant. Saya iseng ke gerai Fresh (sayuran dan buah-buahan), saya dapati disitu benda-benda yang biasa saya temui di desa. Beras, Jagung, Kedelai, Telur, Kacang-kacangan dan semua jenis sayur dan kebutuhan pokok Rumah Tangga, semuanya dikemas rapih, di barcode dan tentu saja tak bisa ditawar. :)

Yang membuat saya terkejut, barang-barang bahan kebutuhan pokok itu ternyata tidak semua berasal dari Lombok. Pelayannya bilang ke saya, hanya sebagian kecil saja yang diambil dari suplayer Lombok, kebanyakan barang dibawa dari Bali dan Jawa. Miris mendengarnya.

Saat saya tanya apa syaratnya menjadi Suplayer, wow ternyata cukup sulit, saya catat beberapa saja, antara lain harus ada Profile perusahaan (Company profile), kapasitas produksi oke, ada sample product dan resume fisik barang dan lain-lain.

Saya bayangkan, betapa sulitnya masyarakat jika mau memasukkan barangnya di tempat ini. Pantas saja yang bisa menyiapkan hanya perusahaan-perusahaan besar yang punya nama. Namun begitu, apakah desa tidak bisa melakukan itu?

Melihat potensi sawah dan ladang kita di desa yang masih sangat luas, warga produktif kita yang sangat banyak bahkan karena tidak ada kerjaan lari kerja ke Malaysia, saya kok sangat yakin, ini bisa dilakukan.

Tentu, peningkatan kapasitas SDM, kualitas dan kapasitas Produksi yang sesuai standar mereka menjadi PR semua stakeholder di desa. Dan tak kalah penting, membangun semangat anak-anak muda beragribisnis, sebelum generasi tua petani ini mulai rapuh dan mati, mereka harus terus disemangati untuk siap menjadi generasi pengganti.
Wallahu A'lam Bissowab.

Ahmad Jumaili