Pesantren Perlu dilibatkan Dalam Pariwisata Desa dan Halal Tourism

Tabayyunews.com - Mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas, perkembangan dunia pariwisata pasti akan merasuki dunia pesantren. Program Pariwisata Desa adalah alasannya. Kenapa? Karena Pesantren itu basisnya di desa.

Sekadar membuka ingatan, tahun 2015 Balitbang Kementerian Agama mencatat, ada 28 ribu lebih Pesantren di Indonesia dengan jumlah santri tidak kurang dari 6 juta santri dari Aceh hingga Papua. Sementara di Lombok saya belum tau persis datanya (datanya...sedang saya cari). Tapi yang pasti lombok ini lumbungnya masjid dan pondok pesantren.

Ini artinya setiap desa di Lombok, memiliki kekhasan dengan adanya pendidikan pesantren. Minimal lembaga pendidikan Islam yang menerapkan sistem pondok atau majelis taklim. Maka yang akan berdampak langsung pada pariwisata desa ini tidak lain adalah komunitas pesantren.

Selama ini, pesantren di desa-desa cenderung diabaikan dan jarang dilibatkan dalam program-program pariwisata desa. Tentu sangat aneh, kenapa tidak dilibatkan padahal subjek utama dari program ini adalah masyarakat desa yang disitu ada pondok pesantren.

Akan sangat berbahaya apabila ini tidak disosialisai. Sebab, keberadaan pesantren akan merasa terganggu minimal merasa terusik dengan keberadaan pariwisata desa yang masih dianggap negatif bagi sebagian komunitas pesantren. Padahal jika mau diajak kerjasama, maka pesantren adalah modal yang sangat strategis untuk melanjutkan program-program pariwisata berbasis desa ini.

Bahkan, karakter sosial kita yang agamis berpotensi besar menyumbang banyak hal untuk kegiatan-kegiatan pariwisata. Bertaburnya masjid, banyaknya pesantren, majelis pengajian, Taman Pendidikan Al Quran, Mushalla dan makam-makam para ulama harusnya ikut di fikirkan pemerintah untuk diajak ambil bagian dari program pariwisata desa.

Begitupun sebaliknya, program-program pariwisata yang selama ini hanya berdampak pada ekonomi masyarakat diluar komunitas pesantren, bisa diarahkan pula untuk memberdayakan potensi pesantren dan santrinya dibidang yang lain.

Harus diakui, warga desa, pesantren dan santri adalah bagian dari persoalan kemiskinan, setelag lulus pesantren mereka bekerja dimana kepada siapa terus menambah angka kemiskinan. Maka yang dapat kita banyangkan, ketika pariwisata ini merambah pesantren,  santri-santri yang sudah lulus akan sedikit tersolusikan dengan terbukanya lapangan kerja baru. Tak hanya itu, secara sosial,  perspektif dan wawasan masyarakat akan semakin luas luas dan terbuka.

Ada banyak produk wisata jika mau digali di pesantren. Misalnya saja, keunikan tradisi dan kehidupan pesantren, sejarah dan mitos-mitos kepesantrenan, penyediaan paket menginap dipesantreb, membika program Ngaji On The Trip. Dan seterusnya.

Apalagi dengan label wisata halal yang digalakkan NTB. Maka pemerintah harusnya memposisikan pesantren digarda depan. Hari ini kita melihat, program wisata halal/wisata syariah begitu deras di ekploitasi untuk menggaet wisatawan-wisatawan asia tengah dan timur tengah. Program wisata yang dijual tetap konvensional, jika tidak pantai pantai,  gunung. Jika melibatkan komunitas pesantren, maka pemerintah akan menemukan pariwisata yang tidak hanya Halal tapi Islami dengan menunjukkan luhurnya nilai-nilai islam nusantara yang tersimpan di pesantren-pesantren ini. Jadinya, wisata halal dapat diekpolitasi bukan sekadar berwisata tapi juga belajar khasanah islam nusantara.

Catatannya, pesantren-pesantren harus kembali ke khittahnya sebagai lembaga pendidikan khas nusantara yang tetap pada karakteristiknya namun ditata lebih rapih dan sistem yang lebih modern dan para santri di didik sadar wisata dan pintar bahasa asing. Pesantren diajak melek tekhnologi, internet harus disiapkan, buku-buku pengetahuan dunia di berikan sehingga wawasan santri bisa terbuka seluas-luasnya.

Namun demikian, bukan berarti kelas-kelas dan pondok santri lantas diubah jadi kamar ber ac dan bahkan disitu ada loundry seperti di hotel-hotel berbintang. Bukan itu yang saya maksud, Tetapi pesantren tetap mempertahankan keunikannya seraya beradaptasi dengan perangkat-perangkat modern dan penguasaan bahasa Asing.

Perkembangan dunia saat ini sudah membuat perubahan besar pada paradigma Pariwisata. Jika dulu orang berwisata untuk menyaksikan yang indah-indah,  kali ini pariwisata identik dengan ketenangan, keunikan dan adanya pengalaman baru.

Saya yang tidak pernah ke Aceh, tentu ingin melihat aceh dengan ragam keunikan yang dimilikinya, sayapun akan kecewa apabila yang saya temukan ternyata sudah di permak dan sudah di modifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi modern. Begitupun pesantren, justru bertahan denhan keunikannya itulah pesantren bisa mengambil peran.

Bagi kita, menyaksikan santri nyuci sendiri, masak sendiri, mandi membawa centong dan handuk, bangun jam 3 pagi, tiduran tak beralas di masjid dan sederet kehidupan pesantren bukanlah sesuatu yang unik, karena setiap hari kita menyaksikannya. Tapi bagi para wisatawan, kegiatan-kegiatan itu berubah menjadi  sesuatu yang unik yang tak bakal dijumpai dibelahan bumi manapun, dan ini adalah potensi pesantren.

Pariwisata dan Islam 

Islam sesungguhnya tidak memandang naif pada periwisata. Justru apabila ditelusuri di kitab-kitab kuning, kahasanah islam dipenuhi dengan traveling para sahabat walaupun dalam konteks yang berbeda penuybaran Islam.

Pasca meninggalnya rasulullah, para sahabat semuanya Hijrah ke berbagai wilayah di Dunia. Terutama syams yang sekarang sudah menjadi Irak, Syiria dan Damaskus.

Bahkan seorang yang menjadi panutan ahlussunah waljama'ah mengenal imam syafi'i adalah seorang traveler ulung. Dalam banyak ungkapan ia menganjurkan seorang untuk bepergian ke negeri yang jauh terutama untuk menuntut ilmu. Imam syafii berkata:

"Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan..
Jika mengalir, ia kan jernih..
Jika diam, ia kan keruh menggenang.."

Kegiatan Traveling apalagi tujuannya menuntut ilmu menurut imam syafii adalah bagaikan air yang mengalir dan terus jernih. Sementara berdiam di kampung halaman tak kan membuka cakrawala fikiran. Bahkan ia secara jelas mengatakan:

"Merantaulah..
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman.."

Apa yang bisa dikolaborasi

Pemerintah bisa membuat semacam pendidikan pariwisata untuk pesantren. Pesantren diberikan orientasi dan kesempatan yang sama dengan desa-desa wisata untuk berinovasi dan dibantu untuk sosialisasi program-programnya.

Pesantren-pesantren tidak harus mendesain ide-ide berbasis agama saja, tapi juga bisa bergerak disektor kreatif lain semisal, pemberdayaan santri membuat anyaman, santri membuat jahit, santri bertani disawah dan lain-lain.

Bahkan, saya membayangkan, Bule belajar ngaji bahasa arab di pesantren, mereka mondok seperti santri lainnya, ikut mengaji, sarapan ala santri, beraktifitas seperti santri lainnya, dan ini pernah kami alami di Pesantren yang kami bina.

Sebuah tanggapan yang luarbiasa dari mereka, tumben ia berwisata diseluruh dunia seperti ini, unik dan betah sehingga mereka tidak hanya berwisata tapi juga melakukan riset dan mengenal khasanah islam Nusantara. []

Oleh: Ahmad Jumaili, S. Pd.I