Peran Nahdlatul Ulama Merawat Islam di Bumi Gora Lombok

Peran-nahdlatul-ulama-lombok-ntb
Tabayyunews.com - Di Lombok, Nahdlatul Ulama datang kali pertama tahun 1934, jauh sebelum Indonesia tercinta merdeka. Dipupuk doa, dirawat istighotsah, dan dijaga wirid harian, Nahdlatul Ulama pun tumbuh dan berkembang pesat. Tangan-tangan Nahdlatul Ulama telah merawat umat dan terus berkhidmat untuk eksistensi Bumi Gora semenjak dahulu, kini, dan nanti.

—————-

SYAHDAN, di suatu masa, di Surabaya, Jawa Timur, Rais Akbar Nahdlatul Ulama (NU) Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari memanggil Syeikh Abdul Manan. Kepada ulama keturunan Arab itu, Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari hendak menyampaikan tugas penting.

Oleh Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, Syeikh Abdul Manan diutus meninggalkan Surabaya untuk bertolak ke Pulau Lombok. Di pulau seberang Bali ini, Syeikh Abdul Manan mendapat tugas membuka wilayah NU.

Suka cita Syeikh Abdul Manan mengemban tugas nan mulia itu. Dengan penuh takzim, Syeikh Abdul Manan pun pamit. Lalu mempersiapkan perjalannya ke Pulau Lombok.

Perjalanan Syeikh Abdul Manan ke Lombok tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 1934. Delapan tahun setelah NU resmi didirikan Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari di Surabaya, tepatnya tahun 1926.

Ampenan adalah tujuan utama Syeikh Abdul Manan. Tahun 1934 itu, kota di pesisir barat Pulau Lombok ini adalah bandar yang masyhur. Ampenan adalah pusat ekonomi. Sebagai kota pelabuhan, Ampenan sungguh kota yang sangat sibuk. Nyaris seluruh arus barang dan jasa di Lombok, dimulai dari sana.

Di Ampenan, Syeikh Abdul Manan sudah punya tujuan. Di Ampenan, dia punya kolega. Mereka adalah para tokoh Persatuan Umat Islam Lombok (PUIL). PUIL kala itu berpusat di Ampenan. Di antara tokohnya adalah Saleh Sungkar, Sayyid Ahmad Alkaf, Sayyid Ahmad Alidrus yang keturunan Arab Hadhramaut di Ampenan dan TGH Mushtofa Bakri, yang merupakan keturunan ulama Banjar, Kalimantan.

PUIL adalah wadah yang membina umat Islam di Lombok. Organisasi ini juga menggelorakan semangat perjuangan melawan penjajahan Belanda. Kala itu, Indonesia memang belumlah merdeka. Penjajah Belanda masih bertakhta di sekujur Nusantara.

Dalam aktivitasnya, selain misi dakwah, para tokoh PUIL juga aktif berkomunikasi dengan masyarakat luar Lombok. Medianya paling banyak melalui kontak dagang. Sebab, para tokoh utama PUIL, selain tokoh agama, adalah saudagar-saudagar yang sukses di Kota Ampenan.

Komunikasi yang intens dengan tokoh luar Lombok itulah yang kemudian berpengaruh membawa bibit-bibit NU Lombok. Dan hubungan baik yang terjalin antara Syeikh Abdul Manan dengan tokoh-tokoh PUIL itu pula yang turut memuluskan rencana pendirian cabang NU di Lombok.

Musabab Indonesia belum merdeka, yang juga berarti belum ada provinsi, maka wilayah NU di Lombok kala itu disebut Konsul NU Lombok.

Setelah komunikasi yang intens dengan Syeikh Abdul Manan, para tokoh PUIL kemudian bersepakat bulat bergabung dengan NU. Ada beberapa alasan. Pertama umat Islam di Lombok kala itu belum memiliki organisasi yang mapan. Di sisi lain, mereka ingin memiliki organisasi pergerakan tingkat nasional yang sehaluan dengan faham Ahlussunnah Waljamaah. Karena itu, NU menjadi pilihan logis.

Semangat untuk bergabung dengan NU itu pun kemudian kian membuncah. Terutama selepas tokoh-tokoh PUIL mengenal NU lebih dekat dengan langsung bertandang ke pusat NU di Surabaya.

”Atas prakarsa PUIL inilah kemudian didirikan NU Lombok, waktu itu disebut cabang Ampenan,” kata Muhammad Harfin Zuhdi, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang malang melintang meneliti kiprah NU di Bumi Gora.

Setahun kemudian, para tokoh PUIL akhirnya benar-benar mewujudkan impian tersebut. Dimulai dengan bergabung menjadi Jamiyyah Nahdlatul Ulama Konsul Surabaya Cabang Ampenan. Hal itu menandai kiprah resmi NU di Pulau Lombok.

Ketua Konsul pertama adalah KH Muhamad Dahlan bin Muhammad Ahyad dari Surabaya. Kemudian tersusunlah kepengurusan NU Lombok, dengan pengurus inti di antaranya TGH Mushtofa Bakri dan Sayyid Ahmad Alidrus yang duduk dalam Dewan Syuriah (Dewan Pertimbangan). Sedangkan H Sayuti menjadi Ketua Tanfiziyah (Pelaksana Harian). Sayuti adalah kakak kandung TGH Musthofa Bakri.

Kepengurusan NU Konsul Surabaya Cabang Ampenan itu terus berjalan dengan mengikuti perkembangan organisasi. Kontak dilakukan melalui komunikasi surat menyurat dan juga media pemberitaan NU yang terbit secara rutin dan berkala.

Muhammad Harfin Zuhdi, dalam bukunya “Sejarah Perjuangan NU di Pulau Lombok” menyebutkan, NU mulai berkembang secara organisatoris sejak dipegang TGH Mushtofa Bakri.

Terbukti, NU Konsul Surabaya Cabang Ampenan di bawah pimpinannya mengikuti Muktamar ke-14 di Magelang, Jawa Timur, 15 Juni 1939. Dia berperan aktif sebagai perumus keputusan dalam Muktamar itu. Di antara usulan-usulannya adalah mendorong berdirinya kantor urusan agama untuk wilayah Lombok, yang mengurus berbagai hal keperluan umat Islam. Dia pula yang merintis berdirinya Masjid At-Taqwa Mataram.

Pada tahun 1940, digelar konferensi pertama NU Konsul Surabaya Cabang Ampenan bersamaan dengan Konfrensi Gerakan Pemuda Anshor. Konfrensi diadakan di gedung Bioskop Ampenan milik H Abdul Kadir. Tempat itu kini adalah Pasar Ampenan. Pertemuan itu menghasilkan keputusan, NU Konsul Surabaya Cabang Ampenan berubah nama menjadi Konsul NU se-Daerah Lombok yang dipimpin TGH Mushtofa Bakri.

Konferensi juga membentuk pengurus inti dengan susunan TGH Mushtofa Bakri sebagai Rois Syuriah (Ketua Dewan Pertimbangan), Sayyid Ahmad Alidrus dan H Sayyid Ahmad Alkaf sebagai anggota Syuriah. Kemudian H Sayuti Said, Sayyid Idrus Mulaihela, Abdul Gani dan Abu Bakar Aljufri sebagai Tanfiziyah atau Pelaksana Harian.

Sementara Gerakan Pemuda Anshor dipercayakan dipimpin oleh M Yusuf Said, yang merupakan adik kandung TGH Mushtofa Bakri.

Ketua PWNU NTB TGH Ahmad Taqiuddin Mansur kepada Lombok Post pekan lalu menuturkan, sosok TGH Mushtofa Bakri adalah perintis awal NU sangat besar. Ulama kharismatik itu memiliki komitmen yang tinggi dalam memperjuangkan usul-usul kebutuhan umat Islam di Lombok.

Ia juga menjadi kepala urusan agama daerah Lombok tahun 1952. Lembaga inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) NTB saat ini.

”Beliau tergolong ulama aktif dan pekerja keras,” tutur TGH A Taqiuddin Mansur.

Tuan guru kelahiran Sekarbela, 1918 itu, kata Taqiuddin masih memiliki hubungan keluarga dengan Syeikh Arsyad Al-Banjari, seorang ulama masyhur pengarang kitab Sabiilal Muhtadiin dari Suku Banjar, Kalimantan Selatan.

Mushtofa Bakri merupakan sosok pencinta ilmu sekaligus saudagar yang sukses di Ampenan. Selain membangun organisasi PUIL, ia juga membantu pengembangan Pondok Pesantren Ar-Roisiyah Sekarbela yang dikelola besannya, TGH Rais Sekarbela.

Kegemarannya berorganisasi mendorongnya terlibat dalam pelbagai pergerakan. Selain menghimpun umat Islam keturunan Arab, India, Palembang, Banjarmasin, dan orang Sasak sendiri, ia juga prihatin melihat keterbelakangan umat Islam. Dalam benak TGH Mushtofa Bakri, umat Islam di Lombok membutuhkan pendidikan, ilmu pengetahuan, untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Sebuah semangat kebangkitan yang sejalan dengan semangat NU.

Maka begitulah. Sejarah mencatat, NU di Lombok terus berkembang. Sejak bergabung dalam keluarga besar NU, dari tahun 1935 hingga 1950, NU Lombok tetap dipegang tokoh-tokoh PUIL. Tapi aspek sosial politik yang sangat dinamis, tentu saja telah memberi pengaruh pada NU kala itu.

Tahun 1946, bertepatan dengan satu tahun kemerdekaan Indonesia, NU bersama ormas lain bergabung dalam partai Islam bernama Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Partai itu menjadi wadah umat Islam Indonesia. Tentu saja sebagai partai politik, dinamikanya cukup tinggi.

Sampai pada tahun 1950, NU kemudian menyatakan keluar dari Masyumi setelah diputuskan dalam Muktamar ke-18 di Jakarta. Kemudian pada tahun 1952, NU mendeklarasikan diri sebagai partai politik. Sejak saat itu NU sudah tidak dipimpin lagi oleh TGH Mushtofa Bakri. Ia termasuk orang yang tidak setuju jika NU menjadi partai politik. TGH Mushtofa Bakri memilih bertahan di Masyumi.

Namun, sebagai penganut Ahlussunah Waljamaah ia tetap NU. Hanya sikap politiknya yang berbeda. Prinsip itu dia pegang teguh hingga akhir hayatnya tahun 1967.

Pengurus Baru

Ida Bagus Putu Wijaya Kusumah dalam bukunya “NU Lombok (1953-1984)” menyebutkan, NU mulai berdiri secara resmi di Lombok pada tahun 1953. Kala itu NU Cabang Lombok bermarkas di Masbagik, Lombok Timur. Organisasi itu berdiri atas prakarsa H Achsyid Muzhar. Tokoh yang ditunjuk menjadi Rois Syuriah adalah TGH Saleh Hambali Bengkel, sementara H Achsyid Muzhar sendiri ditunjuk sebagai Ketua Tanfiziyah.

Struktur kepengurusan NU terdiri dari Syuriah dan pengurus Tanfiziyah. Syuriah adalah badan tertinggi NU yang fungsinya membina, membimbing, mengarahkan dan mengawasi kegiatan-kegiatan NU. Sementara Tanfiziyah merupakan badan eksekutif yang bertugas sebagai palaksana harian. Kedua badan itu diangkat berdasarkan pola hubungan antara kyai dan santri dalam tradisi pesantren.

Pada periode ini, peran TGH M Saleh Hambali sebagai Rois Syuriah sangat menonjol. Tidak heran ia menjadi salah satu tokoh kharismatik di kalangan NU Lombok. Ia mengawali perjuangan mengembangkan NU sejak 1953 hingga ia wafat tahun 1968. Hingga saat ini, ketokohannya tetap dijunjung tinggi kalangan NU, sebab perannya dianggap sangat besar dalam membesarkan organisasi.

Selain membesarkan organisasi, Saleh Hambali juga cukup berhasil di bidang dakwah. Melalui Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Quran yang didirikannya, ia berhasil mendidik beberapa ulama yang kemudian menjadi pejuang NU di Lombok.

Di antaranya TGH Lalu Turmuzi Badaruddin, pengasuh Ponpes Qomarul Huda Bagu. TGH Lalu Khairi Adnan pengasuh Ponpes At-Tamimiy Praya, TGH Ahmad Tauqiuddin Mansur pengasuh Ponpes Ta’limmussyibyan Bonder. TGH Lalu Ahmad Munir, pengasuh Ponpes Nurussalam Tanak Awu, dan lainnya. Dengan banyaknya ulama yang dilahirkan itu, tak heran kalau Muhammad Harfin Zuhdi menyebut Ponpes Darul Quran merupakan pusat pendidikan NU pada waktu itu.

Dengan Ketua Tanfiziyah H Achsyid Muzhar, organisasi NU terus berkembang. Pada tahun 1954, NU daerah Lombok berkembang menjadi tiga cabang, yaitu NU Cabang Lombok Barat berkedudukan di Bengkel, Labuapi. NU Cabang Lombok Tengah di Praya, dan NU Cabang Lombok Timur di Masbagik, Lombok Timur.

Jadilah NU kala itu bergerak di bidang politik, dakwah, pendidikan, dan sosial. Belakangan, seleas NU menahbiskan diri sebagai partai politik, maka kegiatan politik lebih menonjol. Lazimnya partai politik, NU di Lombok kala itu pun ingin mendapat sura terbanyak dalam pemilihan umum.

Setelah Pemilu pertama tahun 1955, NU lebih memfokuskan diri kepada bidang pendidikan agama dan sosial keagamaan. Mendirikan pondok pesantren, madrasah dan pengajian umum. Hal itulah yang membuat NU saat itu menjadi partai politik yang kuat dan mengakar di masyarakat pedesaan.

Tahun 1960, pengikut NU di Lombok semakin bertambah. Disebabkan juga dibubarkannya Partai Masyumi oleh pemerintah. Pada masa itulah, Parpol NU berkembang sangat pesat.

Namun konsekuensi sebagai partai politik, konflik kepentingan dan perpecahan di internal tidak bisa dihindari. Sampai akhirnya tahun 1973, pemerintah Orde Baru mengeluarkan kebijakan penyederhanaan partai politik. Maka NU berserta partai Islam lain seperti Permusi, PSII, dan Ferti memfusikan diri ke dalam satu wadah bernama Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Naik Turun Organisasi Hal Biasa

Soal naik turunnya organisasi, bagi salah satu Kyai Khos NU TGH Lalu Muhammad Turmuzi Badaruddin adalah soal biasa. Pahit manis dan naik turunnya organisasi kata dia adalah lumrah.

Justru dengan cara itu, kata pria yang kini menjabat sebagai Dewan Syuriah PBNU tersebut membuat NU semakin dewasa dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan. Murid langsung Ulama Besar NU TGH Saleh Hambali ini mengatakan, NU merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan ulama, santri dan para nahdiyin. Satu sama lain, saling mengisi dan melengkapi, layaknya tubuh manusia.

TGH Turmuzi pun masih ingat betul, kala tahun 1971 di masa pemerintahan orde Baru. Kala itu, setiap warga yang bernaung di bendera NU, tidak ada yang berani mengungkapkan identitas ke-NU-annya. NU terkungkung. Penyebabnya, karena persoalan politis.

Seiring perkembangan waktu, NU kembali bangkit dan berkembang. Kejadian-kejadian semacam itu, diakui TGH Turmuzi menjadi hal yang biasa dalam NU. Karena memang NU ditempa sedemikian rupa. Sehingga, setiap peristiwa yang muncul, dijadikan bahan pembelajaran dan evaluasi.

Dalam kehidupan kekinian, ungkap Pendidi Pondok Pesantren Qomarul Huda, Bagu ini, para santri menjadi pewaris masa depan NU. Mereka tidak perlu meneteskan darah dan mengorbankan nyawa, untuk berperang. Tapi, cukup dengan tekun belajar, mendengar nasehat orang tua, ulama dan lingkungan. Lalu, menjadi pribadi yang satu pendirian, jangan mudah tergoyah dengan apa pun itu.

Apalagi, era zaman modernisasi dan globalisasi menjadi tantangan berat. Sehingga, harus disikapi dengan kemampuan ilmu pengetahuan agama. “Itu ada di NU” kata ulama kharismatik yang dikenal sosok sederhana dan bersahaja ini.

Kembali ke Khittah

Meski sudah melebur dalam PPP, tapi kemelut tetap terjadi. Jelang Pemilu 1982, konflik dalam tubuh PPP terjadi. Bahkan kadar konflik semakin meningkat setelah Pemilu berlangsung. Beberapa tokoh-tokoh NU tidak diberikanan peranan dalam kepengurusan PPP, baik di tingkat pusat maupun daerah. Tak kecuali di Pulau Lombok.

Kenyataan menjadi tonggak penting bagi NU. NU pun memutuskan kembali ke khittahnya. Tepatnya pada tahun 1984. NU kembali ke garis besar perjuangan sebagai organisasi masyarakat Islam. Hal yang kemudian disamput suka cita warga NU di NTB dan di seluruh Indonesia.

”Dengan kembali ke khittahnya, semua kader NU untuh kembali,” kata Taqiuddin Mansur, yang juga menjadi pelaku sejarah NU di NTB.

Menurutnya, pilihan NU menjadi partai politik adalah sesuatu yang wajar dan sah-sah saja. Sebab, apaun yang akan diperjuangkan harus melalui politik, misalnya NU mengembangkan ajaran agama Ahlussunnah Waljamaah, kalau tanpa politik maka akan mati juga. Tetapi jalur politik itu ternyata tidak menguntungan. Warga NU terpecah-pecah sehingga NU kembali ke khittah, asal usul sebagai organisasi kemasyarakatan.

Dengan keluarnya NU dari jalur politik praktis, maka seorang ketua pengurus NU tidak boleh aktif sebagai pengurus partai. Sehingga, NU menjadi organisasi yang netral dan bisa masuk ke semua kelompok masyarakat.

Sejak resmi berdiri tahun 1953 hingga saat ini, NU NTB mengalami beberapa kali pergantian pengurus, baik Rois Syuriah maupun ketua Tanfiziah. Untuk Rois Syuriah sendiri NU di NTB telah dijabat lima ulama. Yakni TGH Saleh Hambali (1953-1968), KH Saleh Wakek (1968-1973), TGH Lalu Muhammad Faisal (1973-1993), TGH Lalu Muhammad Turmuzi Badaruddin (1993-2006), dan TGH Lalu Khairi Adnan (2006-sekarang).

Sementara untuk Ketua Tanfiziah, NU NTB sudah memiliki tujuh ketua yakni H Achsyid Muzhar (1953-1968), H Israil Bima (1968-1973), H Lalu Muhammad Khatim BA (1973-1996), H Hasan Usman (1996-2003), Prof H Syaiful Muslim (2003-2007), H Mahfud (2007-2011) dan TGH Ahmad Taqiuddin Mansur (2011-sekarang). Kini cabang NU sudah dibuka di semua kabupaten/kota se-NTB.

Aktivitas NU

Sebagai ormas Islam yang lahir dan tumbuh di Indonesia, NU tidak bisa dilepas dari perjuangan membangun semangat kebangsaan. Tradisi keislaman yang ditampilkan NU sangat mencerminkan Islam nusantara, dengan kemajemukan dan kebinnekaannya. Sebagai ormas Islam, NU tidak anti terhadap tradisi dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Hal itulah yang membuat, ajaran NU sangat mudah diterima, bahkan tanpa ada penolakan.

”Dan mungkin Islam Nusantara akan menjadi imam Islam dunia,” kata Taqiuddin Mansur.

Setelah melaskan diri dari politik. NU hingga saat ini fokus ke bidang dakwah, pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Pada bidang dakwah, NU masih mempertahankan metode dakwah tradisional dengan mengadakan pengajian-pengajian, baik yang dilakukan secara harian, mingguan, dan bulanan di masjid, pesantren maupun di rumah warga. Selain itu, dakwah juga dilakukan pada hari-hari besar Islam.

Dakwah dilakukan para ulama seperti TGH Saleh Hambali di Bengkel, TGH Lalu Muhammad Faisal di Praya, TGH Zainuddin Arsyad di Mamben, Aikmel dan Selong. Mereka mendakwahkan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah.

Di bidang pendidikan, NU juga bergerak di bidang pendidikan dengan mendirikan madrasah-madrasah, hingga perguruan tinggi swasta. Seperti pada tahun 1956 didirikan Madrasah Manhalul Ulum di Praya Lombok Tengah, dengan tokoh TGH Faishal. Selain itu, juga tentu mendirikan banyak pondok pesantren. Seperti Ponpes Darul Falah Pagutan tahun 1957, dengan tokoh TGH Abhar.

Tahun 1973, NU juga mendirikan Yayasan Pendidikan Alma’arif yang terus bekembang dan masih eksis hingga saat ini. Terbaru NU membuka Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNU) NTB, izin diterima tahun 2014 dan baru beroperasi tahun akademik 2015/2016.

Dr H Adi Fadli, Rektor UNU menyebutkan, ke depan UNU akan dikembangkan menjadi salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka. Sehingga bisa melahirkan lebih banyak intelektual NU.

Di bidang sosial NU berupaya mewujudkan kemaslahatan umat. Di dalamnya mencakup usaha-usaha memperoleh kesejahteraan. Prinsipnya, merupakan kegiatan sosial dalam bentuk pelaksanaan zakat. Mengajak masyarakat untuk peduli sesama, membantu anak-anak yatim yang kurang mampu dengan membuka Panti Asuhan. Seperti Panti Asuhan Saleh Hambali di Bengkel, Lombok Barat. Melalui panti itu, banyak anak telantar diselamatkan. Mereka juga diserahkan kepada keluarga yang mampu untuk mengasuhnya.

Dengan perjalanan panjang itu, menunjukkan NU telah berkontribusi besar dalam pembangunan umat di NTB. Termasuk kini kader-kader NU banyak duduk sebagai anggota DPR hingga kepala daerah di NTB.

Mudah Diterima Masyarakat

Soal kiprah NU di NTB ini, Wakil Rois Syuriah NU NTB HL Sohimun Faisol mengungkapkan, NU di NTB bisa berkembang lantaran memang membawa Ahlussunnah Waljamaah. Sehingga tidak menimbulkan kegaduhan. “Dari dulu hingga sekarang, NU tetap sama,” kata Faisol.

NU kata dia, mengedepankan sikap toleransi tanpa harus mengorbankan golongan. Sehingga warga NU hidup dengan agama lain untuk saling menghargai. “NU menonjolkan kebersamaan,” katanya.

Dulu kata dia, berdirinya provinsi NTB tidak lepas dari peran NU. Lahirnya NTB tidak lepas dari peran NU, NW, Muhammadiyah, dan organisasi lain.

“Gubernur pertama NTB Raden Arya Ruslan Cakraningrat orang NU,” ungkapnya.

Sementara Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor NTB H Zamroni Aziz berharap generasi muda tetap mempertahankan NKRI. Bagaimanapun juga NU dengan kiprahnya sebelum dan sesudah merdeka mengawal NKRI.

Ia mengajak kalangan muda warga NU dan semua elemen bersama-sama menjaga ukhuwah islamiyah, ukhuwah wataniah, dan ukhuwah basyariah. “Ini tidak bisa ditawar lagi,” ucapnya.

“NU akan terus menjaga NTB, bagaimanapun NTB milik bersama. Muslim dan tidak muslim, Mbojo, Sasak, dan suku lainnya,” tambahnya.

GP Ansor sendiri kata dia, terus melaksanakan kaderisasi desa. Punya pengurus dari desa sampai pusat. Di pendidikan NU bergerak memberantas narkoba. Bidang Ekonomi menggerakkan usaha mikro. Sementara untuk kajian agama, ada kajian kitab kuning Rijalul Ansor.

Mengantisipasi bencana, NU juga memiliki Taganas dari Pemuda Ansor. “Kami juga membantu masyarakat dan pemerintah menyukseskan program kerakyatan dan ekonomi. Dan menata akhlakul karimah,” tuturnya.

Ia berharap kaderisasi dibangun NU dijalankan dengan baik. IPNU, IPPNU, Fatayat, Ansor, dan Muslimat bagian dari kederisasi. GP Ansor dan Fatayat dipersiapkan menjadi pengurus NU masa depan. NU mempersiapkan kader yang misinya sama. Bagaimana menjaga kultur, budaya, Islam Nusantara untuk keutuhan NKRI.

Kajian Kitab Kuning Rijalul Ansor menyiapkan ulama untuk menjadi Syuriah. Para kyai NU disiapkan mengetahui situasi dunia, tidak hanya mengetahui kultur sendiri. “Disamping itu teknologi,” tandas dia. []