Pancasila dan Masa Depan Kita

Pancasila dan kita
Indonesia adalah anugerah terbesar, seikat mukjizat dan sebuah keajaiban, yang hadir dari sekian banyak kepingan keberagaman yang menyatu membentuk mozaik besar. Sebuah keluarga yang dipersatukan oleh persaudaraan kasih sayang luhur. Keluarga besar ini kemudian berumahkan pancasila sebagai tempat berteduh dalam segala suka dan duka.

Atas nama Pancasila – rumah bersama kita – tulisan ini saya persembahkan kepada seluruh anak-anak bangsa yang menjadi korban intoleransi. Yang terusir dari rumahnya sendiri, yang dipaksa pergi dari rumah ibadahnya sendiri, dari gerejanya sendiri, dari masjidnya sendiri, yang masih beribadah di jalanan. Yang masih beribadah dibawah tanda-tanda darurat, yang masih didiskriminasi di tanah kelahirannya sendiri, yang dipersekusi di tanah bangsanya sendiri dan yang dihalangi untuk berjumpa dengan Tuhan yang dipercayainya di tanah leluhurnya sendiri.

Sebagai sebuah bangsa yang harus berani melawan segala teror, tulisan ini juga saya persembahkan kepada saudara kami jemaat Ahmadiyah Transito, Nusa Tenggara Barat dan Saudara-saudari kami komunitas Syiah Sampang, yang sampai hari ini keduanya masih tinggal di pengungsian, persis ketika anak-anak bangsa lain bisa hidup bermartabat.

Indonesia bukanlah sebuah bangsa yang lahir untuk menjadi milik mayoritas, tetapi sebuah bangsa yang lahir untuk menjadi milik bersama. Ketika kita sebuah keluarga besar, maka yang sejatinya kita perbesar adalah kasih sayang di antara sesama kita, memperkecil kebencian dan menghilangkan segala bentuk diskriminasi, baik dari hati, pikiran dan tindakan kita.

Jutaan mil laut dari pulau ke pulau tidak akan pernah memisahkan kita. Ratusan bahasa tidak akan pernah menjauhkan kita. Dan berbagai agama, keyakinan dan kepercayaan tidak akan pernah menyekat kita ketika sesama anak bangsa kita bersaudara dalam kemanusiaan dan berkasih sayang dalam kesetaraan.

Kepada para penyelenggara negara dan siapapun, saya ingin berpesan, bahwa semua anak bangsa minoritas yang saat ini terusir dan teraniaya karena agama dan keyakinan yang dianutnya. Percayalah, bahwa itu semua terjadi karena negara -dengan segala relasi kekuasannya – telah memberi ruang yang begitu besar dan terhormat pada gerakan-gerakan radikal, fundamental, yang menebar teror ketakutan di ruang-ruang publik kebangsaan kita. Dengan keimanan hitam putih menutup pintu bagi ruang perjumpaan dan ruang pertemuan antar keberagaman.

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkebudayaan. Apapun agama, aliran kepercayaan dan keyakinan yang hidup, tumbuh di Indonesia, apalagi yang bersumber langsung dari keluhuran nilai budi Indonesia maka wajib dilindungi dan difasilitasi oleh negara. Semua itu harus dipastikan oleh negara untuk diperlakukan secara setara. Dalam hal ini, agama-agama nusantara, aliran dan kepercayaan Nusantara: Sunda Wiwitan, Sapto Darmo, Marapu, Samin, Ugamo Bangsa Batak, Parmalim, Amatoa, adalah keluhuran nusantara yang harus tetap ada sebagaimana adanya.

Ketika Pancasila adalah rumah bersama kita, maka mengembalikan mereka ke rumah mereka sendiri adalah Ketuhanan yang berkebudayaan.

Masa depan Indonesia ada pada spiritualitas Pancasila yang humanis. Sedangkan gerakan radikalisme, fundamentallisme, takfiri dan terorisme adalah gerakan ahumanis. Gerakan-gerakan ini adalah batu sandungan bagi masa depan Indonesia.

Ketika siapapun dan di manapun, atas nama demokrasi memberi ruang dan memfasiitasi penyebaran kebencian – apalagi berdalih agama – maka sampai kiamatpun kita akan terus larut dan tenggelam dalam “warisan kekerasan dan diskriminasi”. Yang akan terus diwarisi oleh para pembenci bergenerasi-generasi tanpa pernah bisa berhenti.

Terorisme adalah aib bagi masa depan kebangsaan kita. Maka memberi ruang – secara terhormat dan menganggap biasa saja – pada penyebutan kata-kata “kafir”, “sesat”, “bunuh” antar sesama manusia diruang-ruang publik adalah media pemekaran dan otonomi khusus bagi gerakan terorisme.

Terorisme itu hadir dari hati dan pikiran yang membenci, bukan dari segala kesulitan ekonomi. Hati dan pikiran yang membenci semakin mendapatkan panggung penghargaan. Sehingga begitu sombongnya, ketika kita membiarkan begitu saja anak-anak kita mencerap penyebutan kata-kata “kafir”,”bunuh” di ruang-ruang pendidikan, di depan hidung kita.

Hanya dua hal sederhana di atas, ketika arena tersebut selalu disediakan negara atau siapapun, maka, kapan rantai kekerasan, diskriminasi dan perkusi akan terputus ?

Demokrasi bukan turun dari langit untuk melegitimasi kebebasan membenci antar manusia, tetapi kebebasan menjaga kebaikan antar manusia.

Dan…
2018 nanti, dalam pilkada serentak. Terorisme, radikalisme, fundamentallisme, akan semakin subur ketika negara membiarkan begitu saja kontestasi politik yang membajak agama dan identitas

Yang paling sederhana…
hiduplah dengan kasih sayang dan tidak memberi ruang apapun bagi pengajaran kebencian antar manusia. Sekalipun mengatasnamakan agama dan atau membela agama.

Mari teguhkan terus Pancasila sebagai rumah bersama kita, rumah perbedaan dalam persaudaraan. Tempat kita berteduh dari segala hujan kebencian, tempat kita berteduh dari terjangan badai permusuhan. Pancasila adalah rumah bagi siapapun anak bangsa yang hati, jiwa, pikiran dan tindakannya mencintai Indonesia dengan ikhlas, tulus dan teguh.

Kita Pancasila, Kita Indonesia. Kita Setara

Banda Aceh,1 Juni 2017.

Oleh: Teuku Muhammad Ja’far Sulaiman

*penulis adalah dinamisator pada jaringan sobatkbb Aceh

Sumber : Sobat KBB org