Selektif Seperti Nabi

Dalam kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, as-Suyuthi mengutip riwayat imam Ahmad yang ringkasannya adalah bahwa Nabi Muhammad SAW. pernah mengutus Walid bin 'Uqbah ke al-Harits di perkampungan Bani Mushthaliq untuk mengambil zakat. Di tengah perjalanan ia ragu-ragu akhirnya kembali ke Madinah dan merekayasa cerita membuat laporan palsu kepada Nabi SAW bahwa al-Harits tidak mau mengeluarkan zakatnya bahkan justru ingin membunuhnya. Padahal Walid tidak bertemu dengan al-Harits. Dalam kasus inilah kemudian Allah menurunkan ayat 6 Surat al-Hujurat, artinya: "Wahai orang-orang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum karena kebodohan atau kecerobohan sehingga kamu akan menyesal atas apa yang kamu perbuat.

Pesan dan akhlak al-Qur'an ini adalah selalu bersikap hati-hati menerima informasi. Inilah yang dimaksud tabayyun. Pada zaman Nabi SAW. saja sudah diingatkan, apalagi zaman sekarang orang fasik banyak berkeliaran di mana-mana menyebarkan informasi bohong atau berita palsu untuk kepentingan dan keuntungan tertentu.

Saat ini dengan kecanggihan alat komunikasi dan informasi setiap saat berita  masuk dalam genggaman kita.

Mengingat banyak dan berbagai macam informasi dan postingan dari berbagai pihak terutama dalam hubungannya dengan dugaan penistaan al-Qur'an yang dilakukan Ahok dan aksi damai dan simpatik umat Islam serta sikap safari politik presiden Jokowi, maka pesan ayat al-Qur'an tersebut sangat tepat kita pegang agar selektif berhati-hati menerima dan membenarkan informasi. Lebih penting lagi adalah selektif dan berhati-hati menyebarluaskan atau menshare ke orang lain, jangan sampai justru provokasi negatif.
Boleh jadi, ada kelompok yang sengaja menyebar berita bohong dengan tujuan mengadu domba antar sesama umat Islam. Mereka senang melihat perselisihan dan perpecahan umat Islam, karena keutuhan dan kekuatan terbesar bangsa Indonesia adalah persatuan dan kesatuan Umat Islam.
Hal ini sebagian disampaikan pada kuliah Dhuhur Sabtu di Masjid Raya Mujahidin Pontianak.

Dr. Wajidi Sayadi. M.Ag
Ketua Komisi Fatwa MUI Kalbar dan Wakil Rais Syuriyah PWNU Kabar