Mengarifi 'Madrasah' Sosial Media

Madrasah-sosial-media
Gambar ilustration : kerjayuk.com
Coba perhatikan, berapa grup WA yang kita ikuti?
Sebagai praktisi internet marketer, saya mafhum bahwa closing paling mudah itu kalau kita sudah bisa mengakses WA pelanggan kita. Sudah chat secara personal. Mudah mau jualan apapun, termasuk menjual ide.

Sebelum ada rame-rame media sosial, tahun 2006 saya sudah belajar membuat propaganda. Bagaimana cara membuat kata-kata-nya, cara membingkainya, sehingga menjadi berita yang seolah benar. Saya sering gunakan ini dalam media-media brosur, buletin, untuk membangun opini publik. Ilmu ini ilmu berbahaya, karena jika salah langkah, Anda bisa menimbulkan kehancuran.

Berikut contohnya :

"Baru-baru ini seorang profesor kenamaan dari Canadian University bernama Prof. Philippe Hayden membuat statemen menggemparkan. Prof Hayden mengatakan bahwa AIDS adalah rekayasa pemusnahan manusia yang terstruktur sejak tahun 1965, dimana saat itu para pakar bio-engineering, rekayasa genetika, nuclear scientist, berkumpul secara rahasia untuk mengontrol pertumbuhan populasi umat manusia yang semakin mengerikan"

Kalau berita semacam ini disebarkan, orang yang tidak teliti akan dengan mudah mempercayainya, terutama jika diembel-embeli "numpang share dari grup sebelah", "maaf hanya berbagi", dsb.

Anda perhatikan, dalam "berita" diatas, menggunakan kata-kata yang mutakhir : Prof Hayden (siapa ini?), Canadian University (tinggal catut), bio engineering, rekayasa genetika, nuclear scientist, dsb yang membuat pembaca "makin merasa bodoh".

Karena artikel tersebut dianggap "menambah pengetahuannya", maka pembaca tersebut ingin "menaikkan level pengetahuannya" dengan berbagi berita tersebut. Ini dikenal dengan sebutan social currency seperti yang dijelaskan dalam buku Contagious, Jonah Berger.

Dan juga karena masyarakat kita masih terbilang awam dengan chat-messenger seperti WhatsApp dan FB Messenger, maka arus-arus informasi seperti ini menjadi ladang penghasilan bagi kalangan tertentu. Siapa lagi kalau bukan para pelacur traffic.

Berita yang saya buat diatas akan lebih memiliki power jika dibumbui oleh konten agama, karena masyarakat Indonesia tergolong religius. Jadi selain mendapatkan social-incentive, orang yang masih awam dalam dunia social media, akan juga merasa mendapatkan religious-incentive.
  1. Kalau tidak menyebarkan, maka saya berdosa. 
  2. Jika tidak menyebarkan, saya tidak membela agama. 
  3. Kalau saya menyebarkan, maka saya mendapatkan ganjaran di mata Tuhan.
Caranya? Berikan kata-kata pamungkas (saya ambil dari sudut pandang Islam, karena saya nggak begitu paham agama lain):

1. Headline: Astaghfirullah.. Begini ternyata kelakuan ______ sang musuh Islam! <-- Grabbing attention. Supaya naluri keislaman para pembacanya tersentuh.

2. Generalisasi pada Body : "Para ulama seluruh Indonesia telah sepakat...", "Para kyai dan Imam Besar sudah menetapkan keputusan ..." <-- Ini mencegah orang untuk menentang isinya. Kenapa, karena "ulama sudah bersepakat". Kan si pembaca bukan ulama! Ini alam bawah sadarnya.

3. Footer: "Mari sebarkan demi tegaknya Islam. Kita hancurkan musuh-musuh Islam yang menggerogoti umat dari dalam. Sebarkan sebelum diblokir oleh pemerintah yang sudah dikuasai oleh kaum munafik" <-- Ini supaya pembaca take action. Karena ini kuncinya: menyebarkan!

See. Mudah kan bagi para pelacur traffic membuat kehancuran umat beragama demi kepentingannya sendiri?

CARA AGAR IMUN DARI HOAX

1. Kedepankan Husnudzhon

Setiap membaca berita, Anda bisa bertanya dulu terhadap diri sendiri. Apakah benar? Perhatikan kata-kata kerja yang terdapat dalam artikel. Apakah mengandung penggiringan opini? Lihat generalisasi yang dikandung. Apakah mengandung ajakan terselubung, seperti : "Kita sebagai umat Islam seharusnya...", "Kita sebagai orang Jawa seharusnya.."

Saya tidak mengatakan bahwa kalau ada kata-kata demikian adalah berita bohong. Tapi biasanya berita bohong mengandung kalimat seperti diatas.

2. Lakukan cross-check/tabayyun

"Maaf, darimana sumber beritanya ya?" Anda bisa tanya. Kalau jawabannya "grup sebelah", "saya hanya share dari teman", patut dicurigai. Jangan langsung diterima.

Kalau Anda punya waktu lebih, bisa cross-check lewat Google. Cari sumber-sumbernya, nama-nama yang disebutkan apakah benar berkata demikian, dsb.

3. Lebih baik tidak membagikan apa-apa daripada salah membagikan

Salah membagikan informasi, Anda punya dosa jariyah. Salah berbagi 1x, dibaca oleh 400 orang teman kita, lalu diantara 400 itu 200 orang membagikan, dan seterusnya, gara-gara Anda ada ribuan orang yang terjebak berita bohong. Ingat, Anda nggak pernah tau dampak jahat viral-content kalau memang itu dibuat oleh orang yang berniat jahat.

Sebagai penutup, saya kutip sebuah Ayat :
Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”_ (QS. Al Hujurat: 6).

Sumber : Group WA KBA
Ditulis Seorang Praktisi Internet Marketing