NU NTB dan Refleksi Hari Santri 2016

Hari-santri-ntb-2016
Ditengah kekhusyukan Santri menyemarakkan perayaan Hari Santri Nasional dengan gerakan Membaca 1 Milyar Shalawat Nariyah, saya merasa terganggu dengan sebuah pemberitaan Media Online (Metro NTB, edisi Jumat 21/10/2016) berjudul "Hari Santri Nasional di NTB kurang dukungan Pemerintah". Dalam berita itu, kawan-kawan saya di Lakpesdam NU NTB menuding pemerintah daerah yang kurang respon terhadap peringatan Hari Santri. (Link :Metro NTB)

Saya tak melihat apa yang dilakukan kawan-kawan Lakpesdam ini sebagai sikap positif jelang Hari Santri, justru saya menangkap kuatnya kesan jika HSN 2016 justru dijadikan moment "Memalak" duit dari Pemerintah Daerah. Kesan ini saya tangkap karena jelas-jelas kritik teman-teman hanya focus ke minimnya dukungan dana untuk HSN 2016 dari Pemerintah daerah. Yang lebih memalukan, ada statemen yang seakan-akan menyangsikan latar belakang kesantrian TGB sebagai pimpinan daerah.

Gerakan teman-teman NU ini menunjukkan ketaksefahaman pada esensi Hari Santri Nasional 2016.  HSN bagi saya adalah momentum menyatukan visi gerakan pesantren menjadi sebuah kekuatan untuk merajut kembali kebangsaan yang tercabik sebab infiltrasi islam transnasional. HSN ingin menapaktilasi perjuangan para santri saat dulu mereka berjuang dengan harta dan nyawa ikut serta dalam memerdekakan Bangsa ini. Gerakan sosial keagamaan ini sedang dibangun dalam semangat nasionalisme, bukan gerakan politik an sih apalagi untuk nyari duit.

Memang, yang menjadi gerutuan saya sejak lama, Organisasi Nahdlatul Ulama di NTB secara umum, tak terkecuali Banom-Banom seperti Lakpesdam, fatayat, IPNU, Ansor dan lain-lainnya ini tak sekuat NU di tempat kelahirannya, Pulau Jawa. NU di NTB secara kultural kuat namun secara struktural keropos. Kekuatan kultural yang kuat ini tidak didukung oleh kepemimpinan yang berorientasi mengurus ummat melainkan sibuk dengan urusan politik.

Tahun 2003 saat mengadakan silaturrahim dengan salah seorang pengurus PBNU KH. Masdar Farid Mas'udi saya pernah menyampaikan hal ini. NU jika mau membumi di NTB, ya jangan para pemimpinnya hanya berorientasi politik, tetapi mengembalikan NU sebagai gerakan sosial keagamaan.

KH. Masdar saat itu menyambut baik kritik ini dan mengajak pengurus wilayah berbenah. Dikatakanya, untuk keluhan seperti ini sangat mudah di atasi dengan mengintensifkan media-media silatuhim seperti Lailatul Ijtima', Istigotsah, Bahtsul Masail dan lainnya sehingga NU di kampung seperti yang saya rasakan tidak di negasikan.  Dalam kesempatan itu, ketua PWNU NTB TGH. Taqiuddin Mansyur juga berjanji akan lebih sering turun ke masyarakat melalui seluruh banom-banom NU yang ada.

Dikesempatan lain, ketika saya mengadakan kegiatan Pelatihan LKMS bersama Ansor di Bonder, saya kembali menyampaikan pada Ketua PWNU TGH. Taqiuddin Mansyur secara langsung, tapi lagi-lagi sepertinya hal ini tak dianggapnya penting. Terakhir baru-baru ini,  saya sampaikan ke Sekjend PBNU Helmi Faisal Zaeny saat berkesempatan Hadir di Pondok Pesantren saya.

Gerutuan seperti ini saya yakin tidak hanya keluar dari saya. Tapi gerutuan yang sama juga sering saya dengar dibicarakan di pertemuan-pertemuan NU. Bahkan sudah jadi rahasia umum, beberapa tokoh NU di Lombok Tengah (Saya tak perlu sebut nama disini) sampai menyatakan "Mufaraqah" dari Jama'ah dan tak mau melibatkan diri di NU, karena sekali lagi NU NTB telah terlalu jauh dibawa ke Politik an sih.

Akibatnya bisa kita lihat sekarang, isu-isu besar PBNU di Jakarta hampir semua tak sampai ke akar rumput. Isu tak terjalin bagus dan tak terkoordinir secara baik. Isu terputus di tingkatan pengurus wilayah yang bagi saya tak akan cukup dikampanyekan oleh satu dua orang.

Salah satu contoh, isu kontra gerakan islam transnasional yang ditetapkan  dalam Muktamar Jombang. NU di NTB tak mampu bertarung head to head dengan gerakan Wahabisme di daerah. Suara-Suara NU nyaris tak terdengar. Bahkan sebaliknya, ada beberapa tokoh NU merasa perlu mengambil jalur aman dengan berstatemen yang kontraproduktif dengan isu ini dan saya yakin PBNU di Jakarta tidak tahu menahu soal ini.

Lebih jauh soal kepemimpinan organisasi, NU NTB stagnan di Bonder dan Bagu saja dan tak mampu melebarkan sayap gerakan ke wilayah-wilayah lain di NTB. Persisnya, warga NU ditempat lain hanya disapa lima tahun sekali ketika hiruk pikuk pilkada.

Begitu juga Banom-Banom NU seperti Muslimat, Fatayat, Lakpesdam, IPNU-IPPNU, ANSOR dan lain-lain termasuk juga LP Al Ma'arif, LTMI semuanya dalam kondisi yang persis sama. Lebih sempit lagi hanya bergerak di Mataram "Jalan Pendidikan No.6"

Asumsi saya, pembangunan keorganisasian yang dijalankan PWNU hingga banom-banomnya ini belum terisi oleh orang-orang NU yang benar-benar ingin meng-khidmahkan dirinya ke NU secara total. Maka sepintas kita lihat, ghirah mengembangkan NU belum ada dan sekali lagi hanya berdasarkan kepentingan politis.

Khusus di Banom, saya melihat sumbu persoalannya ada di proses regenerasi. Proses ini yang membedakan keber-NU-an temen-temen di Jawa sangat berbeda dengan cara-cara ber-NU disini.

Salah satunya yang tampak adalah, minimnya generasi santri yang melibatkan diri di organisasi. Ini berakibat pada tidak terideologisasinya para pengurus . Yang masuk di Banom-Banom NU justru mereka-mereka yang mohon maaf "Bukan Santri" (walaupun ada yang sebagian santri). Akibatnya adalah miskonsepsi alias gagal faham dengan basis gerakan NU yang identik dengan santri dan pesantren secara Nasional.

Keadaan ini cukup miris sebenarnya, karena setahu saya, semua banom di NU memiliki jenjang-jenjang pengkaderan yang sangat intensif dan dijamin berhasil melakukan ideologisasi di NU. Saya jadi teringat proses ber NU saya yang dimulai dari kampung lalu ke pesantren dan kemudian diideologisasi melalui Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) IPNU-IPPNU di Jogjakarta.

Saya curiga, proses-proses regenerasi penting seperti ini tak pernah disentuh pengurus-pengurusnya, sehingga sekali lagi, anak-anak NU gagal memahami dirinya sendiri dan terjebak pada politik an sih.

Maka saya tidak heran jika kondisi NU dan Banom-Banomnya seperti ini sekarang. Dengan bahasa sederhana, nyaris mustahil menghasilkan kader IPNU yang militan jika justru yang jadi pengurus IPNU tak ada yang pernah mengikuti Makesta? Begitu juga dengan banom-banomnya yang lain.

Saya kira gerutuan seperti sudah saatnya didengar oleh semua kita sebagai refleksi Hari Santri Nasional 2016 ini. Jika tak demikian, saya khawatir NU dan Nadhliyyin-nya di daerah ini akan semakin jauh. Bahkan lebih parah, mengancam terputusnya regenerasi yang menjadi simpul nyawa semua organisasi. Wallahu a'lam.

Penulis :
Ahmad Jumaili
Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak Desa Durian Kec. Janapria