Inilah Ekowisata Desa, Festival Bekerase Aikbual

Ekowisata-aikbual-kopang
Baru kalau desa kita memang mulai bergerak maju atas kekuatannya sendiri, barulah seluruh masyarakat kita akan pula naik tingkatan serta kemajuannya di dalam segala lapangan, termasuk lapangan kebudayaan. (Sutan Syahrir)

Keberadaan sumber mata air yang menggenang menjadi Embung seluas kurang lebih 4 Hektar di Embung Bual selain dimanfaatkan sebagai tempat untuk mandi, mencuci, juga sebagai lokasi budidaya dengan membesarkan ikan-ikan, jenis ikan yang dilepas di Embung Bual antara lain; Nila, Mujair dan lainnya. Pengurus Masjid besar di Desa Aik Bual merupakan Pengelola pembudidaya ikan di Embung Bual tersebut. Pemancingan ikan dibuka untuk masyarakat umum dengan bagi hasil kepada pengurus Masjid.

Masa pemancingan secara bertahap disesuaikan dengan masa panen ikan, setiap orang yang hendak memancing ikan membayar kepada Pengurus masjid dan hasilnya diperuntukkan bagi Pembangunan masjid di desa setempat. Pada Pemancingan Pertama biasanya membayar seharga Rp.100.000,- Pemancingan ke-DuaRp.50.000,- Pemancinyan ke-Tiga Rp. 25.000 dan seterusnya sampai masa Bedah Embung untuk dilakukan proses Bkerase. 

Biasanya aktifitas Pemancingan ramai di hari-hari tertentu seperti hari MingguMenurut Inaq Pian, dulunya tembok batas Embung bual hanya pelepe (ditembok sebatas pematang pembatas embung) baru tahun lalu Embung tersebut diperbaiki dan di Talud. Setiap tahun di Embung Bual diadakan tradisiBkerase yang dilaksanakan sekali setahun, biasanya dilakukan pada pertengahan tahun. Tradisi bekerase ini, tradisi membuka bendungan, mengeringkan bendungan untuk dibersihkan lumutnya dan menguras ikan-ikan untuk dibagikan kepada masyarakat setempat.

Desa Aik Bual dimanfaatkan secara turun temurun sebagai sarana irigasi. Tidak hanya pemanfaatan bagi sumber daya pertanian di desa, Embung Bual oleh masyarakat setempat dijadikan lokasi bagi pemeliharaan ikan air tawar.

Pada pelaksanaan tradisi bekerise dan bekerase yang dalam bahasa sasak berarti (Bekerise; Memperbaiki, Bkerase; Menguras) yaitu dengan melakukan pembersihan sedimentasi embung dilaksanakan setahun sekali. Dalam tradisi ini proses memanen ikan untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat yang ikut dalam festifal tesebut.

Nasrun, Kepala Dusun Bual yang juga menjadi ketua Kelompok Perlindungan Mata Air (Permata) memaparkan pada prakteknya, salah satu contoh implementasi nilai kegotong royongan disandingkan dalam tradisi Bkerase dan bekerise di Embung Bual. pengelolaan aset seperti potensi pembesaran ikan yang dikelola kelompok Pengurus Masjid untuk pembangunan.

Bkerase dilakukan oleh masyarakat bersama Pekaseh (petugas P3A) secara bergotong royong, bahkan sejak 2010 kegiatan Bkerase ini menjadi Festival yang rutin di adakan setiap tahun, menurut Inaq Pian pengunjung dan masyarakat yang terlibat dalam Bekerase meningkat setiap tahun, bahkan tidak hanya dari maysrakat desa setempat akan tetapi ada juga pengunjung dari Lombok Timur bahkan Lombok Barat.

Selain Festival Bkerase, ada juga tradisi Selametan (be-Sereat;Syariat) tradisi masyarakat yang dilakukan selama satu kali dalam Empat atau Lima tahun. Tradisi Selametam , biasanya dilakukan oleh Petani di sekitar Desa Aik Bual dan Wajageseng, membawa ayam hidup dan disembelih di sekitar area Embung Bual, setelah ayam dibersihkan, bagian satu paha ayam diberikan kepada Pekaseh yang menjaga pintu air. Tradisi Selametan ini menurut Inaq Pian dilakukan Petani dengan hajatan untuk memohon pada sang Pencipta untuk kesuburan lahan pertanian dan keberhasilan panen.

Berlatar belakang untuk mendekatkan warga agar lebih perduli pada embung, maka sejumlah tokoh di Aik Bual merumuskan awig-awig atau aturan adat. Salah satu pasal awig-awig itu menyatakan, bagi siapa saja penduduk Aik Bual yang akan melangsungkan pernikahan, maka diwajibkan berkontribusi dengan menanam pohon di wilayah embung.

“Terserah pohon apa saja yang ditanam, namun sebaiknya jenis tanaman keras yang bisa berusia hingga puluhan atau ratusan tahun supaya lingkungan embung terus terjaga dan debit mata airnya tidak menyusut,” kata Moh Nasrun, yang sekaligus Ketua Komunitas Perlindungan Mata Air (Permata), yang intens menjaga kelestarian lingkungan Embung Aik Bual.

Jika calon pengantin tidak melaksanakan awig-awig itu, maka pihak dusun dan desa tidak akan melayani data-data sebagai prasyarat pernikahan. Selama ini, ternyata tidak ada warga yang keberatan dengan persyaratan itu, sehingga silih berganti bibit pohon ditanam di wilayah embung oleh para calon pengantin.

Moh Nasrun menegaskan, keberadaan embung itu memang sangat vital bagi warga sekitar. Setiap pagi, sebagian warga biasa mengambil airnya untuk keperluan rumah tangga. Air embung itu pun menjadi tumpuan bagi irigasi persawahan di Desa Aik Bual bahkan sampai ke Kecamatan Janapria yang jaraknya beberapa puluh kilometer dari lokasi embung.

Begitu pentingnya arti keberadaan embung, sehingga tidak hanya penanaman pohon di wilayah embung yang menjadi perhatian tokoh desa. Kebersihan embung pun mendapat perhatian tersendiri.

“Setiap tahun, kami mengadakan kegiatan Begerase atau menangkap ikan beramai-ramai. Warga dibebaskan menangkap berbagai macam ikan yang hidup di embung. Seperti nila atau kaper, namun dengan syarat, sembari menangkap ikan, harus sekalian membersihkan embung. Caranya dengan mengambil sampah atau tanaman eceng gondok agar tidak memenuhi permukaan air. Nanti embung bisa menjadi dangkal jika kepenuhan eceng gondok,” kata Moh Nasrun.

Kegiatan lain yang selalu dilakukan penduduk Aik Bual adalah mengadakan Nyelamet, yang diadakan setelah embung dibersihkan. Saat perhelatan Nyelamet, maka warga berduyun-duyun datang ke wilayah embung dengan membawa ayam yang masih hidup. Setelah dilakukan doa bersama dan siraman rohani tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, maka warga beramai-ramai memotong ayam itu.

“Tahun lalu (2015) sampai 200 lebih ayam lebih yang dipotong. Setelah dipotong, paha ayam itu diberikan kepada juru air yang turut menjaga kelestarian embung. Sebagian ayam lainnya, kemudian dipanggang dan disantap bersama-sama sembari menikmati keindahan embung. Suasananya ramai dan meriah. Tradisi Nyelamet sudah dilakukan sejak nenek moyang dulu,” ucap Moh Nasrun.

Dikatakan dia, warga menjadi makin sadar untuk menjaga kelestarian lingkungan, setelah menyaksikan sendiri air embung sempat menyusut. Warga khawatir embung akan surut dan lahan persawahan penduduk menjadi mengering. Kekhawatiran ini membuat warga berperan aktif saat terlibat dalam kegiatan penanaman pohon di lingkungan embung.

Tahun ini, Festival Bekerase di kawasan Embung Bual akan kembali di selenggarakan pada tanggal 23 Oktober, sebagai catatan momentum ini cukup menarik selain pada konteks pelaksanaan sebagai event rutin setiap tahun, menjadi upaya untuk meningkatkan pengelolaan potensi sebagai desa Ekowisata berbasis sumberdaya alam. Ke depan, keberadaan potensi desa Aik Bual semoga terus berkembang diharapkan akan mampu berdampak signifikan pada peningkatan kesejahtraan masyarakat. ***

Oleh : Maia Rahmayati Sabri 
Catatan: Tulisan ini, sebagian besar disudur dari catatan lapangan penulis pada kegiatan Studi Participatory Assessment-Konsorsium Hijau pada Januari 2016