Etnografi Konflik & Kekuasaan Nahdlatul Wathan (NW) di Lombok

Sejarah-konflik-nahdlatul-wathan
Nahdlatul Wathan (NW) merupakan sebuah organisasi sosial keagamaan lokal yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah. Organisasi NW didirikan oleh TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau yang lebih dikenal dengan Maulana Syaikh pada tanggal 1 Maret 1953 di desa Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kata Nahdlatul Wathan berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata  nahdlah danwathanNahdlah berarti kebangkitan, pergerakan atau pembangunan, sedangkan wathan berarti tanah air atau negara. Maka secara bahasa nahdlatul wathan berarti kebangkitan tanah air, pembangunan negara atau membangun negara. Kata NW untuk nama organisasi ini diambil dari penggalan nama madrasah yang didirikan oleh Syaikh tahun 1937 yaitu Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah.
Lambang-nw-organisasi
Menurut kajian literatur Islam di Indonesia, istilahnahdlatul wathan pertama kali muncul bukan berasal dari Syaikh, istilah ini telah muncul di kalangan tokoh-tokoh pejuang Islam di Surabaya pada tahun 1916. Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Mansur adalah orang pertama yang menggunakan istilah NW sebagai nama organisasi pergerakan untuk melawan penjajah Belanda pada tahun 1916. Selain itu mereka juga membentuk Nahdlatul Tujjar(kebangkitan kaum pedagang) dan Nahdlatul Fikri(kebangkitan pemikiran) pada tahun 1918 di Surabaya. Fakta sejarah ini melahirkan sebuah tanda tanya apakah terdapat kaitan atau hubungan antara organisasi NW yang lahir di Surabaya tahun 1916 dengan organisasi NW yang didirikan oleh Syaikh di Lombok Timur tahun 1953. Menurut Muhammad Noor secara organisatoris tidak ada hubungan antara kedua organisasi NW versi KH. Hasbullah dengan versi Maulana Syaikh karena jarak waktu yang cukup jauh. Meskipun Syaikh pernah diangkat sebagai konsulat NU pada tahun 1950 perwakilan dari pulau Sunda Kecil, tetapi tidak ada data empiris sebagai dasar untuk melihat adanya hubungan kedua organisasi ini.
Dilihat dari segi usia organisasi NW lahir lebih muda dibandingkan dengan organisasi sosial keagamaan yang lain di Indonesia seperti organisasi Muhammadiyah 1912,Persatuan Islam (Persis) 1923, dan Nahdlatul Ulama1926. Meskipun lahir lebih muda, namun pada praktiknya organisasi NW telah beroperasi sejak tahun 1934. Cikal bakal organisasi NW adalah sebuah pesantren yang didirikan oleh Syaikh tahun 1934 ketika kembali dari Makkah yaitu Pondok Pesantren Al-Mujahidin. Pondok Pesantren Al-Mujahidin berjalan selama tiga tahun, kemudian diganti dengan lembaga madrasah yaituMadrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang dibangun tahun 1937 dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang didirikan tahun 1943. Perkembangan yang pesat kedua madrasah NWDI dan NBDI dan lahirnya lembaga-lembaga pendidikan cabang di berbagai daerah inilah yang ikut memotivasi Syaikh membangun organisasi NW sebagai payung besar untuk menaungi lembaga-lembaga pendidikan tersebut.
Sebagaimana organisasi-organisasi sosial keagamaan yang lain yang memiliki fokus pembangunan, pembangunan di dalam organisasi NW terfokus pada tiga bidang pembangunan yaitu bidang pendidikan, sosial dan dakwah. Di bidang pendidikan NW secara berkelanjutan mendirikan lembaga pendidikan anak cabang di berbagai darah di Lombok mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dari sejak tahun 1934–2010 NW telah berhasil membangun 1500 cabang lembaga pendidikan yang tersebar di dalam dan luar daerah Indonesia. Sementara di bidang sosial NW telah mendirikan beberapa panti asuhan untuk anak yatim dan anak-anak terlantar. Mereka ditampung di panti asuhan NW dan disekolahkan secara gratis dan diberi beasiswa oleh Yayasan NW. Di bidang dakwah NW aktif membangun dan menghidupkan majlis dakwah dan majlis ta’limmelalui para tuan guru NW yang terdapat di desa masing-masing. NW juga memiliki program pengajian keliling desa yang bersifat harian, mingguan, bulanan dan tahunan secara bergantian. Masih terkait dengan dakwah NW juga menciptakan tradisi ritual seperti hiziban, tarekat hizib NW, wirid dan zikiranberzanji, dan membaca wasiat Syaikh yang terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh jamaah NW.
Konsep ideologi NW lebih dekat ke NU daripada Muhammadiyah atau Persis yaitu menganut pahamAhlussunnah wa Al-Jamaah dengan menerapkan mazhab Syafi’i sebagai mazhab tunggal organisasi. Organisasi NW juga mengembangkan tarekat hizib NW dan mempraktikkan ajaran sufi yang menakankan loyalitas dan ketaatan kepada guru. Syaikh adalah guru yang paling tinggi posisinya dalam hirarki masyarakat NW. Sedangkan asas organisasi NW adalah Pancasila sesuai dengan undang-udang nomor 8 tahun 1985. Tujuan organisasi NW adalah li i’ila ikalimatillah wa izzal-Islam wa al-Muslimin (menegakkan kalimat Allah dan kejayaan Islam dan kaum Muslimin). NW dalam khittah-nya menjelaskan bahwa ia tidak berafiliasi kepada salah satu organisasi politik dan organisasi sosial kemasyarakatan manapun. Khittah NW untuk tidak berafiliasi dengan organisasi politik manapun dalam sangat berbeda di dalam praktik sosialnya karena NW dari sejak berdiri tahun 1953 pada masa Orde Lama tidak bisa dipisahkan dari kegiatan politik praktis baik di tingkat lokal maupun nasional. Pada masa Orde Lama Syaikh dan elit-elit NW terlibat dalam kepengurusan dan aktivitas Partai Masyumi. Bahkan elit-elit NW termasuk Syaikh tetap memilih bertahan di Masyumi ketika tokoh-tokoh Islam lainnya dari NU menyatakan keluar dari partai Islam tersebut. Setelah Partai Masyumi dibubarkan tahun 1960, NW berafiliasi dengan Partai Parmusi dan beralih ke Partai Golkar ketika Orde Baru mulai berkuasa. Pada Pemilu tahun 1982, NW keluar dari Partai Golkar dan secara diam-diam beralih ke PPP. Tradisi NW yang aktif di dunia politik praktis semakin kuat di era Reformasi karena tingginya posisi tawar politik NW di tengah perubahan sistem politik di Indonesia. Kesuksesan terbesar NW dalam politik praktis ketika berhasil mendudukkan kadernya untuk pertama kali sebagai gubernur NTB dan bupati Lombok Timur pada Pilkada 2008. Kader-kader NW yang lain juga berhasil memenangkan Pilkada bupati di Lombok Barat 2009, bupati di Lombok Utara 2010 dan walikota Mataram di Mataram 2010. Untuk lebih detail tentang keterlibatan NW dalam politik praktis akan dibahas pada bagian selanjutnya.
Simbol organsiasi NW adalah bulan bintang bersinar lima. Warna gambar simbol NW adalah putih dan warna dasar hijau. Makna filosofis dari simbol ini adalah bulan melambangkan Islam, bintang melambangkan iman dan taqwa, sinar lima melambangkan rukun Islam. Sedangkan warna gambar putih melambangkan ikhlas dan istikomah dan warna dasar hijau melambangkan selamat bahagia dunia-akhirat. Menurut data di lapangan bahwa simbol atau lambang organisasi NW mirip dengan lambang Partai Masyumi. Gambar lambang Partai Masyumi adalah bulan bintang dengan warna dasar hitam tanpa ada sinar di dalamnya. Kemungkinan besar pembuatan gambar lambang NW diinspirasi oleh lambang Partai Masyumi karena Syaikh selaku pendiri NW adalah aktivis Partai Masyumi. Berikut adalah gambar lambang organisasi NW;
Struktur pengurus organisasi NW terdiri dari dua bagian yaitu pertama, dewan pembina organisasi NW terdiri dari Dewan Mustasyar untuk tingkat pengurus besar, Dewan Penasehat untuk pengurus wilayah dan daerah dan Penasehat untuk pengurus cabang, anak cabang dan ranting. Kedua, dewan pelaksana kegiatan organisasi NW terdiri dari Pengurus Besar untuk tingkat pusat, Pengurus Wilayah pada tingkat provinsi, Pengurus Cabang untuk tingkat kecamatan, Pengurus Anak cabang pada tingkat desa dan Pengurus Ranting untuk tingkat dusun dan Pengurus Perwakilan di tempat-tempat yang dipandang perlu (Lihat: Anggaran Dasar Organisasi NW, 1999). Di bawah organisasi NW terdapat badan otonom dan non otonom. Badan-badan otonom terdiri dari kelompok Muslimat NW, Pemuda NW, Ikatan Pelajar NW (IPNW), Himpunan Mahasiswa NW (Himmah NW), Persatuan Guru NW (PGNW) dan Ikatan Sarjana NW (ISNW). Sementara badan non otonom terdiri dari Badan Kajian, Penerangan dan Pengembangan Masyarakat NW (BP3MNW), Jam’iyatul Qurra’ wal Huffaz NW, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIHNW) (Lihat: Anggaran Dasar Organisasi NW, 1999).
Keanggotaan NW dibagi menjadi dua yaitu anggota biasa dan anggota kehormatan. Anggota biasa adalah setiap orang Islam yang se-azas dan se-tujuan dengan organisasi NW serta bersedia memenuhi kewajiban organisasi. Sementara anggota kehormatan NW adalah setiap orang yang menyokong serta bekerja sama dengan organsiasi NW. Keanggotaan NW seringkali menjadi persoalan karena hingga sekarang belum ada mekanisme dan prosedur yang jelas sebagai sarat menjadi anggota NW. Pada masa awal berdiri NW orang-orang yang ingin menjadi anggota NW biasanya masuk sebagai siswa di lembaga pendidikan NW dan sebagian dilakukan secara lisan yakni orang tua menyerahkan anak-anaknya kepada Syaikh untuk dididik dan ikut berjuang di NW. Selain itu Syaikh melakukan pembai’atan kepada siswa-siswa di sekolah NW dan para jamaah NW yang berisi sumpah setia kepada NW secara turun temurun sampai ke generasi berikutnya termasuk anak dan cucu dan seterusnya. Hingga sekarang belum terdapat mekanisme dalam bentuk tulisan sebagai bukti keanggotaan NW misalnya, kartu anggota NW. Konsekuensinya sulit mengetahui secara pasti data yang akurat mengenai jumlah jamaah NW yang sebenarnya meskipun muncul klaim sebagai kelompok majoritas Muslim di NTB.
Sebelum mengalami konflik dan perpecahan internal tahun 1998 NW hanya memiliki satu kepengurusan pusat yang berkantor di Kelurahan Pancor, Selong, NTB. Namun terjadi perubahan setelah NW mengalami konflik dan perpecahan pasca Muktamar NW ke 10 di Praya Lombok Tengah tahun 1998. Setelah Muktamar Praya NW menganut dualisme kepemimpinan yaitu NW Pancor danNW Anjani. NW Anjani merupakan kelompok yang mendukung hasil Muktamar Praya, sedangkan NW Pancor adalah penentang hasil Muktamar tersebut. Kelompok pendukung Muktamar Praya pindah dari Pancor ke desa Anjani karena tekanan dan aksi kekerasan pendukung kontra muktamar yang menyerang kelompok mereka. Kelompok ini menjadikan Anjani sebagai pusat organisasi NW yang baru sehingga mereka dikenal dengan sebutan NW Anjani. Sementara kelompok penentang Muktamar membentuk kepengurusan lain yang dikenal dengan NW Reformasi yang tetap berpusat di Kelurahan Pancor.
Dualisme kepengurusan di NW secara praktis juga berdampak pada konflik dan perpecahan seluruh jamaah NW dan lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan organisasi NW baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. Di tingkat pusat hampir semua lembaga pendidikan terpecah dua kecuali perguruan tinggiSekolah Tinggi Keguruan & Ilmu Pendidikan (STKIP) Hamzanwadi karena di bawah Kopertis Wilayah VIII Denpasar. Selain STKIP seluruh lembaga pendidikan terbagi dua mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan dua perguruan tinggi yaitu Institut Agama Islam Hamzanwadidan Ma’had Darul Qur’an wa Al-Hadits. NW Anjani harus mulai membangun dari awal karena mereka tidak mempunyai gedung sama sekali di desa yang baru. Perlahan-lahan mereka berhasil membebaskan tanah seluas 36 hektar (Profil Ponpes Syaikh Zainuddin NW Anjani, 2008: 12-13). Sementara NW Pancor merehab pembangunan yang sudah ada dan juga membangun gedung-gedung baru untuk kebutuhan karena setiap tahun siswa dan mahasiswa yang masuk belajar terus bertambah di Pancor.
Konflik NW tidak hanya berdampak negatif, tetapi juga berdampak positif. Kedua pecahan organisasi NW baik NW Anjani maupun NW Pancor terus berlomba-lomba membangun dan mengembangkan aset-aset organisasi NW baik di bidang pendidikan, sosial dan dakwah. Konflik telah memotivasi mereka untuk fastabiqul khairot di semua bidang termasuk di bidang politik praktis. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa kedua kubu NW ini seringkali saling meniru jenis kegiatan dan pembangunan. Ketika NW Anjani membangun stasiun Radio Dewi Anjani, NW Pancor juga ikut membangun stasiun Radio yang dikenal dengan Radio Hamzanwadi. Mereka juga sama-sama membentuk kelompok Pam Swakarsa untuk membela dan mempertahankan aset masing-masing dari serangan salah satu pihak. NW Anjani membentuk kelompok Pam Swakarsa Barisan Hizbulloh, sedangkan NW Pancor membentuk Satgas Hamzanwadi. Anggota dari kedua Pam Swakarsa ini seringkali terjebak dalam aksi kekerasan untuk membela kubu masing-masing. 

Selama masa kepemimpinan Maulana Syaikh (19431997), kebesaran Nahdlatul Wathan (NW) tidak hanya diukur dari segi kuantitas jamaah yang dimilikinya sebagai kelompok majoritas diLombok, tetapi juga keberhasilan NW di berbagai bidang seperti pendidikan, sosial dan dakwah. Di bidang pendidikan Syaikh adalah tokoh pertama yang mengembangkan sistem pendidikan agama yang modern di Lombok melalui pendirian lembaga pendidikan madrasah. Di NW hanya terdapat satu lembaga pendidikan yang menggunakan sistem pesantren yaituMa’had Darul Qur’an was Al-Hadist. Lembaga ini sengaja dibangun oleh Syaikh sebagai pendukung output lembaga pendidikan yang lain.
Sejak masa berdiri NW hingga kematian Syaikh pada tahun 1997, dia telah berhasil membangun ratusan cabang madrasah di hampir seluruh daerah di Lombok. Terdapat 800 buah lembaga pendidikan yang dibangun oleh Syaikh dan murid-muridnya sejak tahun 19431997 dengan jenjang pendidikan yang berbeda-beda mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Kemajuan lain yang dicapai oleh NW pada masa Syaikh adalah keberhasilan pada bidang sosial dengan mendirikan 23 panti asuhan yang tersebar di beberapa pengurus cabang NW. Panti asuhan ini mengadopsi anak-anak yatim dan anak yang tidak mampu. Syaikh juga mampu membawa NW bekerja sama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk menekan tingkat populasi di NTB. Sosialisasi program KB yang dilakukan oleh organisasi NW sangat efektif karena menggunakan pendekatan agama. Pengurus organisasi NW termasuk para tuan guru ikut mensosialisasikan progran KB melalui pengajian-pengajian. Selain itu NW pada masa Syaikh juga tercatat sebagai organisasi yang sangat kooperatif dengan pemerintah baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru. Hampir tidak ada konflik besar antara tokoh-tokoh NW dengan pihak pemerintah.
Prestasi lain yang dicapai NW pada masa Syaikh adalah pengembangan dakwah islamiyah di Lombok. Syaikh telah berhasil melakukan dakwah di Lombok termasuk ke komunitas Wetu Telu[1]. Komunitas Wetu Telu hampir punah karena kuatnya arus konversi ke Islam Waktu Limahanya sebagian kecil komunitas yang masih mempraktikkan ajaran Wetu Telu. Keberhasilan dakwah ini karena Syaikh menggunakan pendekatan kultural dalam menyebarkan ajaran Islam seperti yang dilakukan oleh Wali Songo di Jawa. Dia sangat akomodatif dan respek dengan budaya lokal serta mampu menggunakan simbol-simbol budaya lokal untuk kepentingan dakwah keagamaan.
Masuknya gerakan dakwah oleh tokoh-tokoh NW dan tokoh Islam lainnya telah menarik simpati sebagian warga Islam Wetu Telu. Mereka bersedia menyekolahkan putra-putra mereka di madrasah NW di Pancor. Sebagian juga belajar di pesantren TGH. Mutawalli dari Jero Waru, Lombok Timur. Setelah selesai masa pendidikan, mereka kembali ke kampung dan melakukan kegiatan dakwah dan mendirikan madrasah. Banyak di antara mereka yang berprofesi sebagai tuan guru atau guru agama di sekolah mereka. Daerah-aerah yang menjadi basis komunitasIslam Wetu Telu seperti di desa Sukarara dan Sakra di Lombok Timur, desa Bleka dan Mujur di Lombok Tengah, desa Lembuak, Narmada di Lombok Barat dan desa Bayan di Lombok Utara telah bergeser komposisinya. Sebelumnya, jumlah pengikut Islam Wetu Telu di daerah tersebut sekitar 60% dan sisanya adalah penganut Islam Waktu Lima, sekarang justru terbalik 40% Islam Wetu Teludan 60% Islam Waktu Lima.
Adapun kelemahan NW selama kepemimpinan Syaikh adalah pada aspek manajemen konflik. Syaikh tidak menyadari adanya ancaman besar akan terjadi konflik dan perpecahan di kalangan keluarga dan elit-elit NW akibat kontestasi kekuasaan dan dominasi sumber-sumber modal di dalam maupun di luar NW. Selain itu Syaikh seringkali mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang kontra-produktif di tengah-tengah jamaah NW sehingga menimbulkan multi interpretasi bahkan kesalahpahaman terhadap pemaknaan ungkapan Syaikh tersebut. Dia juga cenderung mendengar elit-elit NW yang dekat dengan dirinya tanpa melakukan crosscheckkebenaran atas data atau informasi itu. Munculnya kasus pemecatan yang kontraversial terhadap elit-elit NW adalah salah satu bukti lemahnya managemen konflik dan kontrol informasi yang masuk kepadanya. Selama masa hidupnya telah terjadi berbagai peristiwa konflik dan perpecahan internal elit-elit NW seperti kasus tahun 1977 dan 1982.
NW kembali dilanda konflik dan perpecahan pada tahun 1982 karena persoalan politik dengan Partai Golkar. Kasus tahun 1982 pada awalnya merupakan konflik eksternal dengan pengurus partai Golkar, kemudian merembet menjadi konflik internal elit-elit NW karena perbedaan kepentingan. Pada Pemilu legislatif tahun 1982 organisasi NW mengisyaratkan diri untuk keluar dari partai Golkar karena kecewa dengan sikap partai ini yang tidak pernah merealisasikan sebagian janji-janji politiknya. Pada waktu itu NW melakukan gerakan tutup mulut (GTM) tidak memberi pernyataan secara jelas akan mendukung salah satu partai, tetapi ada kecenderungan elit-elit NW mendukung PPP. Elit-elit NW yang menjadi anggota dewan dari Partai Golkar dihadapkan pada pilihan yang sulit, apakah tetap di Golkar atau keluar dari partai Golkar dengan melepas jabatan mereka sebagai anggota dewan. Sementara jika tetap di Golkar sama artinya meninggalkan atau berkhianat kepada guru ‘Syaikh’ dengan konsekuensi harus rela keluar dari NW. Sebagian elit-elit NW memilih tetap di Golkar seperti TGH. Najamudin dari Praya dan TGH. Zainal Abidin dari Sakra. Mereka tetap aktif di partai Golkar karena kepentingan politik pribadi dan keluarga. Selain itu, mereka menilai bahwa Syaikh tidak menggunakan bahasa yang tegas dengan keputusan GTM tersebut yang akhirnya menimbulkan multi tafsir di kalangan elit-elit NW, sebagian elit memaknai boleh tetap di Golkar dan sebagian mengartikan harus keluar dari Golkar.
NW Pasca Maulana Syaikh
Wafatnya Syaikh tahun 1997 tidak hanya meninggalkan duka yang mendalam bagi jamaah NW, tetapi juga meninggalkan berbagai persoalan politik di internal organisasi NW yang belum terselesaikan. NW pasca Syaikh merupakan era baru bagi jamaah NW karena selama ini dia merupakan tokoh sentral di NW selama hampir satu abad. Di era pasca Syaikh merupakan era transisi dari kepemimpinan Syaikh ke generasi NW berikutnya. Pada saat yang bersamaan, setahun setelah dia wafat, bangsa Indonesia sedang dalam proses transisi dari era Orde Baru ke era Reformasi. Sejalan dengan agenda reformasi di tingkat nasional, NW juga mengalami reformasi di setiap bidang baik di bidang pendidikan, politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Membandingkan era Syaikh dengan era setelahnya bukanlah sesuatu yang gampang karena harus melihat berbagai aspek. Selain itu, membandingkan dua era ini sulit berlaku objektif karena perbedaan kondisi sosial-politik yang mempengaruhi perkembangan NW. Saya berpendapat bahwa pada bidang-bidang tertentu NW pasca Syaikh mengalami kemajuan yang lebih besar daripada NW pada masa Syaikh. Meskipun NW dari sejak awal ditinggal oleh Syaikh setelah wafat terjebak dalam konflik dan perang saudara yang berepanjangan, namun mereka sangat berhasil di bidang politik dan pembangunan. Misalnya, NW mencapai prestasi puncak ketika mampu mengantarkan kadernya sebagai gubernur NTB dan bupati Lombok Timur priode 20082013.
Seperti yang penulis kemukakan sebelumnya, bahwa telah muncul konflik dan perpecahan secara terbuka di tubuh organisasi NW setelah Syaikh wafat. Ketika dia masih hidup konflik dan perpecahan bersifat sembunyi-sembunyi di balik layar, tetapi setelah dia wafat konflik dan perpecahan mulai terbuka di publik. Selama satu dekade, konflik dan perpecahan NW telah menjadi konsumsi publik dan komoditas politik baik bagi masyarakat Lombok dan jamaah NW khususnya. Muktamar NW ke 10 tahun 1998 di Praya adalah puncak konflik NW pasca wafatnya Syaikh. Pada Muktamar itu terdapat dua kubu yang bersaing sebagai orang nomor satu di NW yaitu kubu Rauhun (R1) dan kubu Raihanun (R2). Pemimpin kedua kubu ini adalah putri Syaikh, mereka bersaing memperebutkan posisi sebagai pemimpin NW yang baru. Hasil Muktamar di Praya yang menunjukkan terpilihnya Raihanun dari kubu R2 sebagai pemimpin NW yang baru mendapat tantangan dan penolakan dari kubu R1. Kubu R1 melihat ada pelanggaran aturan organisasi pada Muktamar Praya karena pencalonan Raihanun sebagai pemimpin NW. Pro dan kontra hasil Muktamar ini melahirkan konflik dan perpecahan selama satu dekade lebih sejak tahun 19982009.
Peristiwa konflik merupakan salah satu yang paling menonjol dalam sejarah perkembangan NW pasca Syaikh. Yang menarik adalah meskipun NW di tengah perpecahan dan konflik komunal tetapi NW tetap eksis, bahkan terus menunjukkan grafik perkembangan yang lebih jika dibandingkan dengan masa Syaikh. Konflik dan perpecahan tidak menghambat elit-elit NW untuk terus mengembangkan sayap-sayap organisasi. Pasca Muktamar Praya NW secara organisatoris terbagi ke dalam dua kubu yakni kubu R1 dan kubu R2. Dalam perkembangannya, kedua kubu ini juga dikenal dengan sebutan NW Pancor untuk kubu R1 dan NW Anjani untuk kubu R2. Munculnya nama Pancor dan Anjani mengacu pada tempat masing-masing kedua kubu menjalankan roda organisasi.
Selama konflik dan perpecahan kedua kubu bersaing dan berkompetisi menunjukkan kubu siapa yang lebih baik di dalam mengelola NW. Kubu R2 atau dikenal dengan NW Anjani bersama pendukungnya melanjutkan perjuangan NW dengan membangun lembaga-lembaga pendidikan yang baru. Perkembangan NW Anjani tergolong cepat meskipun mereka mulai dari nol. Mereka membebaskan tanah sambil membangun institusi-institusi pendidikan, stasiun Radio Dewi Anjani dan lain-lain. Hal yang sama juga dilakukan oleh kubu R1 atau NW Pancor, mereka terus meningkatkan pengembangan kualitas outputlembaga pendidikan yang telah ada. Mereka juga merehab gedung-gedung sekolah yang sudah tua atau tidak layak pakai dengan membangun gedung-gedung baru. Mereka berhasil merampungkan bangunan perpustakaan Birrul wa Lidain dan membangun stasiun Radio Hamzanwadi. Keberhasilan kedua kubu NW dengan membangun stasiun radio adalah pencapaian yang tidak pernah dicapai pada masa Syaikh. Begitu juga dengan keberhasilan NW menyelesaikan bangunan gedung Birrul wa Lidain adalah sebuah prestasi tersendiri karena bangunan ini merupakan projek besar yang menghabiskan dana miliaran. Bangunan perpustakaan ini telah mulai dibangun sejak Syaikh masih hidup dan belum selesai selama bertahun-tahun sampai dia wafat.
Sebagai konsekuensi dari perpecahan NW, seluruh kebijakan tergantung pada kubu masing-masing. Seringkali kebijakan organisasi antara kedua kubu saling berbenturan. Nuansa persaingan antara keduanya telah masuk pada ranah di luar organisasi seperti ranah politik. Kedua kubu mengubah arah kebijakan politik mereka dengan berafiliasi ke partai-partai politik yang baru. Pada Pemilu tahun 1999, kubu Anjani berafiliasi ke partai Golkar pimpinan Akbar Tanjung, sementara itu kubu Pancor berafiliasi ke Partai Daulat Rakyat (PDR) pimpinan Adi Sasono. Perubahan kebijakan politik kedua organisasi NW juga terjadi pada Pemilu 2004, kubu Pancor berafiliasi ke Partai Bulan Bintang (PBB), sedangkan kubu Anjani berafiliasi ke Partai Bintang Reformasi (PBR). Kedua partai politik afiliasi NW ini selalu memperoleh suara yang signifikan di NTB masuk 5 besar.
Tahun 2008 merupakan tahun bersejarah bagi kedua kubu NW karena mereka terlibat langsung di dalam pertarungan politik praktis di NTB. Kedua kubu terlibat di dalam persaingan pada Pilkada tahun 2008 untuk posisi gubernur di NTB dan bupati di Lombok Timur. Dalam pandangan penulis bahwa inilah puncak kejayaan NW karena mampu memenangkan Pilkada di NTB meskipun di tengah konflik internal. NW berhasil memenangkan dua jabatan publik yaitu sebagai gubernur NTB dan bupati Lombok Timur periode 20082013. Pada Pilkada tersebut TGB. Muhammad Zainul Majdi (pemimpin NW Pancor) terpilih sebagai gubernur NTB dan Sukiman Azami yang berpasangan dengan Samsul Lutfi (pengurus NW Pancor) sebagai bupati dan wakil bupati Lombok Timur. Kemenangan ini merupakan sejarah baru bagi NW karena selama kepemimpinan Syaikh belum pernah kader NW berhasil memegang kedua jabatan publik terebut. Kemenangan ini juga menarik karena NW dalam kondisi konflik dan perpecahan, apalagi kubu NW Anjani tidak mendukung calon dari kubu NW Pancor. Mereka justru mendukung calon lain di luar NW.
Prestasi lain adalah kader-kader NW pasca Syaikh semakin terbuka dan kritis. Pola-pola kepemimpinan yang mengutamakan sikap fanatik yang berlebihan perlahan-lahan mulai tereduksi walaupun masih eksis. Dari kedua kubu NW terdapat perbedaan pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan NW, kubu R2 lebih cenderung mempertahankan pola kepemimpinan Syaikh yang mengedepankan ideologi sufistik yang menekankan ketaatan total kepada guru dan pemimpin organisasi. Tidak diperbolehkan seorang kader menentang atau mengkritisi kebijakan organisasi. Berbeda dengan kubu R1 yang lebih menekankan sikap rasional dengan mewacanakan paradigma baru tentang perubahan di NW. TGB. Muhammad Zainul Majdi berhasil membangun wacana baru di NW seperti wacana pluralisme, multikulturalisme dan kebebasan berpendapat. Dia juga membangun kembali hubungan dengan tokoh-tokoh dari luar NW seperti tokoh Muhammadiyah dan tokohNahdlatul Ulama dengan mengundang mereka hadir di acara-acara hari besar NW. Yang lebih menarik lagi adalah kubu NW Pancor di awal kepemimpinan TGB. Majdi melibatkan tokoh-tokoh di luar NW masuk ke jajaran pengurus NW untuk membantu pengembangan organisasi ini. Dia juga merekrut dan merangkul tokoh-tokoh yang pernah dipecat atau dibuang oleh Syaikh untuk ikut berjuang kembali di NW seperti TGH. Afifuddin Adnan.
Berbeda dengan kubu NW Anjani yang masih alergi dengan tokoh-tokoh di luar NW. Mereka hanya mengundang tokoh-tokoh di luar NW jika terdapat agenda dan kesepakatan politik yang melibatkan mereka. Misalnya ketika masa Pilpres, mereka mengundang Amin Rais yang menjadi calon presiden pada Pemilu 2004. Masih sangat taboo bagi kubu NW Anjani untuk membangun komunikasi dan bekerja sama dengan organisasi-organisasi di luar NW. Dengan demikian NW Anjani terkesan ekslusif secara kelembagaan. [ ]


[1] Wetu Telu merupakan salah satu varian agama Islam yang berkembang di Lombok. Ajaran Islam Wetu Telu diklaim sebagai ajaran sinkritisme 
.....yang memadukan ajaran Islam dengan Hindu dan agama lokal masyarakat Lombok yaitu Boda (lihat Budiwanti, 2000).
Ditulis oleh : Saipul Hamdi *
* Peneliti ARI−NUS 2009 dan lulus Doktoral ICRS−UGM 2010
RESOURCE ARTICLES : Ethno Hostory