Hadirnya Sang Pencerah Rakyat

pencerah
 Untuk membentuk birokrasi Negara Idonesia yang ideal. Menurut Andrinof, Indonesia membutuhkan 300 kepala daerah yang bersih, Kridibilitasnya, Capabilitasnya teruji. “yang mereka lakukan tak lebih dari tugas dan kewajiban seorang pemimpin masa kini” (wawancara RRI Pro3, Senin, 12 Mei 2014). Negara ini haus dan lapar pemimipin yang bersih (moral dan cara memimpin). Bobroknya roda pemerintahan yang terjadi di Negara ini. Terlihat bahwa, praktek KKN terjadi secara sadar dan terus terulang. Negara demokrasi ini dikenal sebagi terkorup di Dunia. Rupanya hal demikian membudaya di Negara ini. sayangnya, banyak calon wakil rakyat yang memperebutkan kusri jabatan untuk menjadi orang nomor satu. Calon wakil rakyat apakah hadir sebagai solusi untuk menjadi sosok penyelamat ditengak-tengah terjerumusnya Negara ini? atau justru menambah catatan sejarah pilu dihati rakyat?.


Fenomena diatas merupakan salah satu tontonan publik dan disiarakan terus menerus Dalam media massa(Koran dan televisi), betapa brutalnya Negara ini dikacamata media. Ini tidak akan terjadi jika para wakil rakyat yang terhormat menjemput bola tanpa harus menunggu bola keluhan dan kritikan pedas dari rakyatnya. Kepala daerah bisa belajar sahabat Nabi Yakni, Khalifah Ummar Bin Khattab yang turun langsung menyaksikan dan mendengarkan berbagai macam problema yang terjadi ditengah-tengah rakyatnya. Ini adalah teladan suci yang harus dipanuti oleh pemimipin(masa kini). Pada kenyataanya, Pemimim yang ada di Negara yang kaya raya akan kekayaan alam ini dinilai menggunakan jabatannya untuk melakukan tindakan tidak terpuji seperti melakukan rekening gendut, menindas yang lemah, dan masih banyak lagi tindakan tidak terpuji lainnya yang harus dibenahi.

Untuk mengatasi problema yang tak berujung itu. Rupanya rakyat butuh pemimipin yang bukan hanya duduk dikursi empuk. Menandatangi surat yang masuk dan sesekali rapat membahas kemasalahan rakyat yang belum terealissai”kata mereka(pemimpin)”. Namun, dibutuhkan pemimipin yang langsung terjun ketengah-tengah rakyatnya. Suasana tersebut tidak ubahnya sebagai studio rekaman dan olah vocal, meminjam istilah Iwan Fals dalam judul lagunya ruang paduan suara.

Kita ambil contoh dari bupati Bantaeng yakni Nurdin Abdullah. Beliau seorang akademisi yang tinggal di Jepang memimpin beberapa perusahaan besar, kesejahteraan dan kenikmatan yang dapatkan itu ditinggalkan karena permintaan ribuan rakyat Bantaeng berdatangan ke rumah mertuanya dan membujuk Abdullah untuk memimpin Bantaeng yang waktu itu tidak mempunyai pengalaman memimpin. Hasilnya bupati ini membawa Bantaeng dalam progress pembangunan yang signifikan, “dahulu Bantaeng dikenal dengan banjirnya, kemiskinannya, penyakitannya sekarang tidak lagi kita temukan di Bantaeng”.(Nurdin Abdullah dalam Mata Najwa). Contoh lain orang-orang seperti Ahok (Wakil Gubernur DKI), Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung), Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng), Zainuddin Abdul Majdi (Gubernur NTB) mungkin bisa menjadi obat kegalauan rakyat, ibarat oase penyegar ketika negeri ini terasa kering dan krisisnya kepemimpinan maka orang-orang di atas mungkin bisa jadi jawaban. Gaya kepemimpinan yang mereka terapkan bermacam-macam, mulai dari marah-marah, santun, blusukan, yang pada intinya mengutamakan kepentingan rakyatnya.

Contoh diatas adalah salah satu prestasi-prestasi yang membanggakan dan karya(jasa) ini akan tetap dikenang oleh rakyat. Namun, adakah pemipin seperti ini sekarang?. Pertanyaan ini mengundang kontroversi semua pihak. Melalui pemilukada serentak yang akan digelar Desember mendatang . Penulis memberikan pandangan terkait kepala daerah idaman diantaranya:

1. Tidak rakus jabatan
Berlomba-lombanya calon wakil rakyat untuk menduduki kusri jabatan. Tidak dapat dipungkiri. Banyaknya jaminan yang diberikan Negara kepada wakil rakyat adalah factor yang membuat calon wakil rakyat ingin menduduki kursi jabatan yang empuk tersebut
Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,
”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

2. Memutuskan perkara dengan adil
Perkara-perkara yang teerjadi dirakyat hendaknya diselesaikan dengan jalan yang adil. Ini adalah tugas dan fungsi wakil rakyat. Semoga siapapun yang terpilih Sembilan desember mendatang dapat menjadi pemimpin yang adil. Hokum tidak pandang bulu. Karena selama ini hokum tajam kebawah dan tumpul keatas. Rasulullah bersabda,
”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).

3. Menasehati rakyatnya
Rasulullah bersabda,
”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

4. Pemimpin tidak menerima hadiah
Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada pemimpinnya. Pasti terselip maksud-maksud tersembunyi. Ingin mengambil hatinya atau ingin mendekatinya supaya mendapatkan bagian dalam kusri jabatan. Rasulullah bersabda,
” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).

5. Tegas
ini merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu diidam-idamkan oleh rakyatnya. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan Allah, SWT dan rasulnya.

6. Lemah Lembut
Doa Rasullullah :
"Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya"
Selain poin- poin yang ada di atas seorang pemimpin dapat dikatakan baik bila ia memiliki STAF. STAF disini bukanlah staf dari pemimpin, melainkan sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut. STAF yang dimaksud di sini adalah Sidiq(jujur), Tablig(menyampaikan), amanah(dapat dipercaya), fatonah(cerdas)
Sidiq itu berarti jujur.

7. Niat yang Lurus
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”

Bila kriteria diatas ada pada diri seorang pemimpin maka tidak lagi kita saksikan media sibuk meliput dan menyebarluaskan kerusahan para demonstran yang melakukan aksi unjuk rasa didepan kantor wakilnya yang terhormat dan polisi sibuk mengamankan para demonstran. KPK(komisi pemberantasan korupsi) tidak lagi disibukkan dengan menggeledah dan menangkan wakil rakyat dengan kasus-kasur korupsi, Kolusi dan Nepotisme. pendapat terkait kepala daerah Wahai wakil rakyat yang terhormat hapus luka dan airmata rakyat selama ini. Coba dengarkan keluhan mereka dan hadirlah jadi wakil-wakil rakyat yang menjadi solusi ditengah permasalahan rakyat yang tak kunjung selesai. SEMOGA 


Penulis : Toni Hermawan Alumni MANSelong Lombok Timur, Penulis bisa dihubungi di Nomor Telpon. 082339877595