Buruh Minim, Biaya Panen Makin Mahal

buruh_tani_lombok
Tabayyunews.Com - Musim panen padi yang hampir serempak di semua desa di Kecamatan Janapria membuat sejumlah pemilih lahan kesulitan mencari buruh tani yang bisa segera memanen padi di sawahnya.

Tak hanya itu, buruh tani memanfaatkan situasi ini dengan mengambil ongkos yang lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya, sehari mereka patok antara 15 ribu hingga 20 ribu perhari, tapi tahun ini mereka meminta naik 25 hingga 30 ribu sehari.

Kondisi ini membuat petani khawatir padi mereka yang sudah menguning dan merunduk, akan rusak dan habis dimakan unggas.

H. Sailah warga Bakan Janapria ketika ditemui Tabayyunews Rabu (26/3) kemarin mengatakan, padinya seharusnya sudah panen minggu lalu tapi ketiadaan buruh ini menjadikan padinya mulai merunduk menyentuh tanah dan dikhawatirkan akan rusak dan habis dimakan unggas jika tak bisa panen hingga akhir minggu ini.

Ia menambahkan, saat ini buruh-buruh tani seperti mencari kesempatan menaikkan ongkos memburuh mereka disawah. Bahkan mereka memilih-milih pemilik lahan yang siap membayar lebih mahal.

“Uang yang habis ketika tanam kemarin saja belum sebanding dengan gabah yang akan kita dapatkan, sekarang tambah lagi buruh yang mahal” Keluhnya pada Tabayyun.

Senada dengan H. Sailah, empat orang warga Desa langko yakni, Marzuki, L. Kardi, Amak Sanim dan Ruka'iyah mengeluhkan hal yang sama. Amak sanim bahkan sudah tak sabar menunggu sampai minggu ini, ia berencana akan memanen sendiri padinya bersama anak dan isterinya.

Ye susah nani jak boyak dengan, sangkak lemak aru lamun ndekman arak mauk jak eak rampekan dirik (Susah sekali sekarang cari buruh, kalau sampai besok belum ada yang mau saya mau panen sendiri. Red)” Kata Amak Sanim yang memiliki tak kurang dari 2 hektar lahan. [Mastar]