Cerita Haji Asin, Si Pengerajin Caping

Caping
Haji Asin, warga Dusun Rempung Desa Langko Kecamatan Janapria itu menerimaku di beranda rumahnya. Tampak, senyumnya sedikit menyembunyikan kerutan-kerutan di wajahnya. Ia mengajakku duduk di tikar pandan. Disampingnya setumpuk caping hasil rajutannya tersandar rapi di tembok yang belum jadi benar.

Oleh para tetangganya, Haji Asin dikenal sebagai keluarga caping alias keluarga pembuat caping sejak 30 tahun lalu. Caping, nama topi sederhana berbentuk kerucut yang menjadi sahabat karib para petani di seantero negeri.

“Ini Usaha turun temurun dek, kami warisi dari buyutnya anak-anak” katanya disela kesibukannya mengayam.

Haji Muhammad Asin Ali, begitu nama lengkap yang ia sebutkan. Ia bercerita gelar haji yang disandang di depan namanya-pun adalah berkah dari mengayam caping. Bahkan putranya bisa lulus SMA semua ia biayai dari Caping juga.

“Hampir semua keluarga saya mengayam caping dek, bahkan menantu dan ipar saya juga menganyam Caping, makanya kami dikenal keluarga caping” tuturnya sambil terkekeh

Dalam sebulan, Haji Asin mengaku bisa menghasilkan 60 sampai 100 kerajinan Caping. Caping-caping yang sudah diproduksi tersebut biasanya langsung diambil pengepul-pengepul di desa seharga 5 ribu rupiah untuk anyaman paling bagus dan 3 ribu rupiah untuk anyaman kasar. Para pengepul itulah nantinya yang memasarkan Caping hingga ke luar daerah seperti Sumbawa, Bima bahkan Bali.

“Rata-rata kami jual ke pengepul, tapi ada beberapa perajin yang menjualnya sendiri ke pasar-pasar terdekat” Katanya bercerita.

Amaq Kanim dan Inaq Juki, suami isteri yang juga berprofesi sama ketika ditemui di rumahnya mengungkapkan, modal untuk membuat caping lumayan besar. Untuk 60 caping atau satu kodi dibutuhkan minimal 10 batang bambu awur yang bagus-bagus. Harganya rata-rata satu batang mencapai 5 sampai 7 ribu rupiah. Sehingga jika dikalkulasi antara modal dan hasil penjualannya tak terlalu menggembirakan,

“Dalam modal 70 ribu kita bisa untung sekitar 110 ribu rupiah” Kata Inaq Juki menjelaskan.

Sebenarnya, untung yang sedikit ini bisa disiasti dengan memproduksi caping lebih banyak, namun mereka mengatakan keterbatasan modal membuatnya tak bisa membeli bambu lebih banyak.

“Kesulitan modal pak, karena uang yang kita hasilkan banyak dipakai makan keluarga” Kata Amak Kanim.

Foto: Petani dan Sepeda
Ditengah kondisi sulit seperti  itu, diluar sana mereka didesak lagi dengan hadirnya caping yang terbuat dari karet yang tentunya lebih ringan dibandingkan dengan caping yang terbuat dari bambu seperti yang mereka hasilkan. Mereka, Haji Asin dan semua pengerajin di Dusun Rempung Desa Langko Kecamatan Janapria ini mengaku ketir dibuatnya.

Karena itu, Haji Asin mewakili para pengerajin lain meminta bantuan pemerintah agar memperhatikan mereka.

“Hanya ini usaha kami, tanam tembakau kami tak punya sawah, mau nyewa tak ada modal, satu-satunya pekerjaan ya ini” katanya sambil menyodorkan peraut bekas rajutannya. [AJ/MTR-Tabayyun]