Membaca Peradaban Lewat Sebuah Buku

Ahyar Rosyidi
Sampai saat ini peran buku masih belum bisa tergantikan. Terutama dalam kapasitas sebagai sumber pustaka, sumber pengetahuan dan sumber informasi walaupun banyak jejaring sosial yang lebih praktis dan lebih hebat seperti dunia internet. Sampai kapanpun, buku akan tetap jadi primadona ilmu pengetahuan yang paling esensial bagi kemajuan peradaban manusia.

Sebuah buku mampu menghadirkan serpihan-serpihan sejarah yang sudah lama tercecer berabad-abad, seakan menjadi terang benderang oleh serpihan ilmu yang berserakan menjadi serangkaian data  yang diolah melalui tulisan lalu dibukukan menjadi sebuah buku. Sehingga semua itu menjadi peristiwa yang berguna dalam memberdayakan  kehidupan manusia. Maka, sejarah peradaban manusia sangat bergantung pada catatan masa silam yang sempat dibukukan dan menjadi sumber informasi paling menentukan bagi masa depan peradaban manusia saat ini.

Menjadi Petualang Intelektual

Mengutip bahasa Bang Mujadid Muhas, “Menjadi petualang intelektual” bahasa inilah yang paling tepat dalam pemakaian bagi pecinta buku dan tulis menulis. Sebuah buku lahir dari perkembangan dan kebutuhan akan pentingnya komunikasi, informasi dan kemampuan daya pikir manusia, serta kelemahan daya tampung pikiran manusia yang sangat terbatas. Kebutuhan akan lahirnya buku bukan berarti mengesampingkan media dan sumber pengetahuan lainnya. Melainkan karena memang sudah menjadi sebuah tuntutan zaman saat ini. Memang diperlukan sebuah media ideal yang mampu menampung segala bentuk ilmu dan pengetahuan yang belum tertulis dan dipublikasikan dalam bentuk kesatuan yang utuh yakni dibukukan menjadi sebuah buku.

Pada zaman kuno sebelumnya kita mengenal sebuah peradaban buku, tradisi komunikasi masih mengandalkan lisan pada saat itu. Tak heran jika penyampaian informasi tentang cerita-cerita, nyanyian, doa atau pun syair masih menggunakan media lisan dari mulut ke mulut. Sampai pada waktunya manusia mulai memikirkan cara untuk menuangkannya semua itu dalam bentuk tulisan. Maka hasil tulisan itu lahirlah apa yang disebut dengan “buku”  kuno pada zaman ketika sarana ilmu pengetahuan masih belum begitu memadai.

Bagi saya, peradaban buku adalah menjadi ciri khas kemajuan manusia di masa lampau, di samping menyokong ilmu pengetahuan secara luas. Buku juga menjadi cerminan petualangan intelektual yang bisa dibayangkan tanpa harus melihat secara langsung di mana peradaban manusia itu berlangsung.

Peradaban buku telah membuktikan dahsyatnya kemajuan pemikiran manusia dalam menyongsong kehidupan yang lebih dinamis dan progresif. Salah satu cirinya masyarakat berperadaban adalah dengan adanya tulisan dan bahasa yang mewakili pemikiran manusia dalam menjalin internal aksi dengan manusia lainnya (Hablum min ‘nan nas). Dari proses interaksi itulah bisa menciptakan sebuah bangunan peradaban buku-buku kuno.

Apa yang disebut dengan buku kuno ketika pertama kali dikenal belum seperti tulisan yang tercetak di atas kertas keping-kepingan batu, tulang unta, pelepah kurma itu pada zaman Nabi Muhammad SAW sampai pada zaman sahabat Khalafaurrasyidin, atau di atas kertas terbuat dari daun Papirus. Papirus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang tumbuh di Sungai Nil.

Seperti halnya diungkapan oleh peneliti sejarah Lew Hee Men, (2000:6) dalam bukunya, sejarah peradaban manusia, menyatakan, pertama kali tulisan yang tersusun secara alphabet ditemukan di Mesir sekitar pada 1800 SM. Pada awal pertama kali ditulis di atas kayu dan batu sebelum akhirnya ditulis di atas lembaran papirus. Kertas papirus bertulis dan berbentuk gulungan yang disebut sebagai bentuk awal buku kuno.

Pada perkembagan selanjutnya dunia pembukuan dan budaya tulisan mengalami perubahan yang signifikan dengan diciptakannya kertas yang sampai sekarang masih kita gunakan sebagai bahan baku penerbitan buku. Tidak ayal jika lembaran-lembaran kertas telah memantik lompatan besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan sampai saat ini.

Melalui lembaran-lembaran kertas, beragam pemikiran sudah ditorehkan dan elaborasi ilmu pengetahuan pun sudah mulai digalakkan. Lompatan besar melalui kertas yang menghasilkan berjilid-jilid buku dan sampai menjadi cikal bakal lahirnya sejumlah perpustakaan dan literasi menulis dan peradaban buku.

Sejarah panjang pembuatan buku mencerminkan sebuah perjuangan panjang manusia dalam mengubah sebuah peradaban hingga dari zaman ke zaman. Sekarang dunia tulisan dan pembukuan sudah mengalami perkembangan yang sangat modern, dengan desain yang lebih menarik, berwarna dan tata letak yang bagus. Waktu pembuatan yang singkat, serta mendapatkan hasil pembukuan yang banyak. Bahkan teknologi informasi baru sedang bergerak merubah semua itu melalui jaringan yang lebih distributif dan tidak  sentralistis.
Cobalah kita berkaca pada masa lalu, betapa membuat tulisan untuk menjadikan buku itu sangat sulit, memerlukan ketelatenan, ketelitian kesabaran dan pengabdian yang totalitas dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Maka dari itu marilah kita menghargai sebuah tulisan dan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan. Membaca adalah kunci pembuka kemanfatan sebuah buku dan tulisan. Wallahu A’lam Bissawab…

PENULIS: Ahyar Rosidi - Koord. KM Mellbao, Blognya dapat dikunjungi di www.mellbao.blogspot.com