Sekolah Negeri Janjikan Siswa Seragam Gratis

Musim penerimaan siswa baru Tahun Pelajaran 2012/2013 nampaknya akan menjadi tahun sulit bagi sekolah swasta di Kecamatan Janapria. Hal ini dikarenakan, beberapa pimpinan sekolah negeri melakukan perekrutan siswa dengan cara menjanjikan seragam gratis, buku gratis dan SPP gratis bagi siswa yang mau masuk di sekolahnya. Hal ini dapat ditemui di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Janapria di Jembe.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Loang Maka, Istrim, S. Pd mengatakan, di sekolah tersebut, siswa yang masuk dijanjikan 2 stell seragam sekolah dan 1 stell seragam olahraga. “Saya sudah daftar beberapa anak di desa saya untuk masuk disana” Katanya.

Diceritakan Istrim, pada tahun-tahun sebelumnya, sekolah tersebut tak pernah menjanjikan seragam gratis seperti ini, namun sepertinya karena beberapa tahun terakhir siswa yang berminat belajar di sekolah ini menurun, maka hal ini sepertinya terpaksa dilakukan.

“Tahun kemarin siswanya saya liat sangat sedikit, satu kelas ada yang hanya belasan orang” Katanya.

Salah seorang pengamat pendidikan Suhaili, S. Pd, M. Si menilai, membaiknya pengelolaan kelembagaan oleh lembaga-lembaga pendidikan swasta di kecamatan janapria menjadikan kualitas pendidikan swasta juga mengalami peningkatan. Karenanya dalam beberapa tahun terakhir, sekolah swasta rata-rata kembali mendapat pengakuan masyarakat terbukti dengan minat calon siswa yang memilih masuk swasta lebih besar ketimbang sekolah negeri.

Namun tindakan sekolah negeri yang mengiming-imingi siswa dengan fasilitas-fasilitas gratis seperti yang dilakukan bebrapa sekolah negeri menurutnya bukan cara bersaing yang sehat.

“Persaingan sehat harusnya mengunggulkan kualita bukan dengan banyak-banyakan uang” Jelas Suhaili.

Ia menambahkan, apa yang dilakukan sekolah Negeri ini dengan menggaet siswa dengan iming-iming serba gratis secara tidak langsung adalah bentuk ketidakpedean sekolah negeri bersaing dengan sekolah swasta. Akibatnya, sekolah swasta lagi-lagi akan kesulitan mendapatkan siswa karena rata-rata peserta didik sekarang suka dengan yang gratisan.

“Gratis boleh, tapi harus diimbangi dengan kualitas, tapi kalo gratis kualitasnya gratisan pula ya kasian anak-anak kita” Ujar Suhaili.[]